Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Layanan Informasi Penyuluhan Perikanan

Jumat, 20 Maret 2015

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN SECARA INTENSIF



Secara umum, pemijahan ikan dapat dibedakan menjadi pemijahan alami dan pemijahan buatan. Pemijahan alami dilakukan terhadap jenis-jenis ikan yang mudah dipijahkan sepanjang  tahun, sedangkan pemijahan buatan dilakukan terhadap ikan yang sulit memijah karena  lingkungannya yang tidak sesuai.

A.        Penyiapan induk
Induk merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pembenihan ikan, induk yang baik dan sehat tentu akan menghasilkan benih yang baik. Induk yang baik untuk dipijahkan diberi makanan tambahan yang cukup mengandung protein.

B.        Seleksi induk matang gonad
Induk ikan yang akan dipijahkan diseleksi terlebih dahulu, yaitu dengan memilih induk-induk betina dan jantan yang matang gonad atau siap pijah. Penangkapan induk dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya stress.


Ciri – ciri induk ikan yang telah matang gonad sebagai berikut:

a.       Induk betina:
-        Umur kurang lebih 3 th.
-        Berat minimal 1,5 – 2 kg per ekor.
-        Perut membesar ke arah anus.
-        Perut terasa empuk dan halus saat diraba.
-        Keluar beberapa butir telur berbentuk bundar dan berukuran seragam jika bagian disekitar kloaka ditekan.

b.      Induk jantan:
  • Umur minimal 2 th.
  • Berat 1,5 – 2 kg per ekor.
  • Kulit perut lembek dan tipis.
  • Alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua.
  • Keluar cairan sperma berwarna putih jika perut diurut ke arah anus

Selain ciri-ciri diatas induk ikan harus sehat secara fisik, yaitu tidak terinfeksi penyakit dan parasit juga tidak memiliki luka akibat benturan, pukulan, goresan, atau sayatan. Selain itu juga harus memiliki sifat pertumbuhan relatif cepat serta resisten terhadap penyakit, tetapi toleran atau mudah beradaptasi dan responsif terhadap perubahan lingkungan dan makanan.

C.        Memilih calon induk yang baik
Induced breeding dapat dilakukan dengan menggunakan kelenjar hipofisa ikan lain,seperti ikan mas dan ikan lele, dapat juga dilakukan dengan menggunakan semacam kelenjar hipofisa buatan yang menggunakan hormon gonadotropin, dikenal dengan merk dagang Ovaprim.
  • Menggunakan Kelenjar Hipofisa Ikan Mas
1.   Siapkan ikan donor atau ikan yang akan diambil kelenjar hipofisanya. Jika induk betina yang akan disuntik memiliki berat 3 Kg dan induk jantan 3 Kg, donor ikan mas untuk induk betina seberat 9 Kg dan untuk induk jantan 6 Kg.
2.  Ikan mas yang akan diambil kelenjar hipofisanya dipotong tegak lurus atau vertikal dibagian belakang tutup insang.
3.   Potongan kepala diletakkan dengan posisi mulut menghadap ke atas, kemudian dipotong vertikal dari permukaan sedikit diatas mulut sehingga akan tampak organ otak yang dilingkupi lendir atau lemak.
4.   Otak diangkat dan lendir dibuang atau dibersihkan dengan kapas atau tisu. Setelah bersih dari lendir, di otak akan tampak butiran putih seperti beras. Itulah kelenjar hipofisa yang dibutuhkan.
5.   Kelenjar hipofisa diambil dengan menggunakan pinset dan dihancurkan dengan menggunakan gelas penggerus sampai halus. Untuk memudahkan penyuntikan, kelenjar hipofisa tadi dilarutkan ke dalam Aquabides sebanyak 2,5 ml. Bisa juga dengan menggunakan plastik bening dan diremas-remas sampai hancur.
6.  Larutan kelenjar hipofisa selanjutnya diambil atau disedot dengan menggunakan alat suntik. Penyuntikan dapat dilakukan secara intramuskular (di dalam daging atau otot ) di belakang pangkal sirip punggung dengan menggunakan jarum suntik berukuran 0,12 mm.

  • Menggunakan Ovaprim
1.   Untuk mengetahui dosis Ovaprim yang akan digunakan, induk betina dan dan jantan yang akan dipijahkan ditimbang terlebih dahulu.
2.   Dosis penyuntikan induk betina berbeda dengan induk jantan. Untuk induk jantan diperlukan Ovaprim sebanyak 0,3 ml/Kg dan induk betina sebanyak                0,5 -0,9 ml/Kg.
3.   Penyuntikan terhadap induk betina dilakukan dua kali. Pada penyuntikan pertama dosisnya  sebanyak 1/3 bagian total dosis, pada penyuntikan kedua dosisnya sebanyak 2/3 bagian total dosis. Penyuntikan kedua dilakukan 8-10 jam setelah penyuntikan pertama.
4.    Penyuntikan induk jantan dilakukan sekali bersamaan dengan penyuntikan kedua induk betina.
5.    Untuk menghindari induk berontak saat penyuntikan      ( yang dapat menyebabkan telur keluar ), penyuntikan sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Satu orang bertugas memegang jarum dan menyuntikkan, satu orang lagi bertugas memegang ikan yang akan disuntik.
6.   Penyuntikan dilakukan secara intramuskular dibelakang sirip punggung dengan memasukkan jarum sedalam kurang lebih 2 cm dengan kemiringan 45 derajat.
7.   Induk-induk ikan yang telah disuntik selanjutnya disimpan di dalam bak atau hapa dengan air yang mengalir.


D.        Stripping dan Pembuahan
Ovulasi adalah puncak kematangan gonad. Saat ovulasi, telur yang telah masak harus dikeluarkan dengan cara memijit bagian perut (stripping) ikan betina.
1.      Sediakan wadah untuk menampung telur, berupa baskom plastik yang telah dibersihkan dan dalam keadaan kering.
2.      Induk betina yang akan di stripping dipegang dengan kedua belah tangan, tangan kiri memegang pangkal ekor dan tangan kanan memegang perut bagian bawah. Ujung kepala induk ikan ditopangkan di pangkal paha. Selanjutnya, perut diurut secara perlahan-lahan dari bagian depan ke arah belakang dengan menggunakan jari tengah dan jempol, lalu telur-telur tersebut ditampung di dalam baskom.
3.    Induk jantan ditangkap untuk diambil spermanya. Sperma ini nanti akan dicampurkan dengan telur-telur di dalam baskom.
4.       Pengurutan induk jantan pada prinsipnya sama saja dengan pengurutan induk betina. Sperma yang keluar dari perut induk jantan langsung disatukan dengan telur yang telah ditampung di dalam baskom.
5.   Agar terjadi pembuahan,yaitu telur dan sperma dapat tercampur dengan sempurna, lakukan pengadukan dengan menggunakan bulu ayam kurang lebih selama 0,5 menit. Pengadukan dilakukan secara berputar perlahan-lahan di dalam baskom.
6.     Untuk mendapatkan fertilisasi ( pembuahan ), ke dalam campuran telur dan sperma tadi dapat ditambahkan pula garam dapur sebanyak 4.000 ppm. Penambahan dilakukan sambil tetap mengaduk campuran dan disertai dengan memasukkan air sedikit demi sedikit. Pengadukan dilakukan kurang lebih selama 2 menit.
7.       Untuk membuang kotoran berupa lendir, perlu dilakukan penggantian air bersih sebanyak 2-3 kali. Untuk menghindari terjadinya penggumpalan pada telur, perlu dilakukan pencucian dengan menggunakan larutan lumpur. Lumpur dapat membersihkan lendir-lendir yang menempel dan memisahkan telur-telur yang menggumpal. Lumpur yang digunakan berupa lumpur atau tanah dasar kolam atau tanah tegalan yang dipanaskan pada suhu 100 oC terlebih dahulu guna menghindari penyakit.
8.     Telur-telur yang dibuahi akan mengalami pengembangan. Ukuran telur terlihat lebih besar serta berwarna kuning penuh. Telur – telur yang tidak baik dibuahi akan berwarna putih dan mengendap di bawah.

Sumber : Khairuman, Amd., Ir. Dodi Sudenda. Budidaya PatinSecara Intensif. Agro Media Pustaka. 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar