Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Layanan Informasi Penyuluhan Perikanan

Rabu, 18 Mei 2016

Pengendalian Hama - Penyakit Budidaya Ikan Gurame

Dalam melakukan usaha budidaya ikan, keberadaan hama dan penyakit seolah menjadi hal yang sangat lumrah untuk dijumpai apalagi pada ikan gurame. Ketepatan dalam pengendalian hama dan penyakit ikan menjadi faktor kunci penentu keberhasilan suatu usaha budidaya ikan. Berikut ini akan dijelaskan teknik pengendalian hama dan penyakit yang sering dijumpai pada usaha budidaya ikan gurame

1)    Hama

a.    Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.

b.    Uncrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit diberantas;hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.

c.    Katak (Rana spec)
Makan telur  telur  ikan.  Pengendalian:  sering  membuang  telur  yang  mengapunmenagkap dan membuang hidup-hidup.

d.    Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.

e.    Linsang/ biawak
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.

f.    Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning. Pengendalian: diberi penghalang  bambu  agar  supaya  sulit  menerkam;  diberi  rumbai-rumbai  atau  tali penghalang.

g.    Ikan Gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu guramiukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.

h.    Belut dan Kepiting

Pengendalian hama : lakukan penangkapan.

Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu, sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain. Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukkan air dipasang serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk ke dalam kolam.

2)    Penyakit

a.    Binti Merah (White Spot)
Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan badannya pada benda yang ada disekitarnya   dan  berenang  sangat  lemah  serta  sering  muncul  di  permukaan  air. Pengendalian: direndam dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.

b.    Bengkak Insang dan Badan ( Myxosporesis)
Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu.

c.    Cacing Insang, Sirip dan Kulit (Dactypogyrus dan girodactyrus)
Gejala:  ikan  tampak  kurus,  sisik  kusam,  sirip  ekor  kadang-kadang  rontok, ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian: (1) direndan dalam larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit  dan direndam dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang berlebihan.

d.    Kutu Ikan (Argulosis)
Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian kulit, sirip dan insang  terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage). Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20 gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.

Teknik Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Budidaya Ikan Gurame
e.    Jamur
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya. Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalam larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3  selama  30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.

f.    Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selama 15 menit dalam larutan formalin 150-200 ppm.

g.    Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang  sangat ganas. Gejala: pendarahan dan  bobok pada kulit; sirip ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.

h.    Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit kesat dan melepuh; cara  bernafas  mengap-mengap;  kantong  empedu  gembung;  pendarahan.

3)    Pengendalian Penyakit
Salah satu cara pengendalian penyakit ikan yang dilakukan selama ini meliputi pemberian obat-obatan berupa bahan kimia dan antibiotika. Namun demikian, pemakaian bahan-bahan tersebut secara terus menerus akan menimbulkan masalah baru, yaitu meningkatkan resistensi mikroorganisme penyebab penyakit. Selain itu, dapat membahayakan lingkungan perairan disekitarnya dan ikan-ikan itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan obat herbalis sebagai pengganti obat-obatan kimia.

a.    Sirih (Piper betle L)
Khasiat sirih digunakan sebagai penahan darah (styptic) dan obat luka pada kulit (vulnerary) juga berdaya guna sebagai antioksida, antiseptic, fungisida dan bakterisida. Hal ini jelas bahwa daun sirih yang mengandung minyak atsiri bersifat menghambat pertumbuhan parasit. Atsiri pada sirih mempunyai bau yang aromatik dan berasa pedas. Atsiri mengandung chavicol (C4H3OH) yang merupakan antiseptic yang kuat untuk menanggulangi parasit terutama Ichthyophthirius multifilis. Caranya dengan merendam pada konsentrasi 8,3 ppt, daun sirih tingkat mortalitas parasit Ich mencapai 99,4 % sedangkan konsentrasi terbaik perendaman dengan daun sirih yang aman untuk ikan dan efektif adalah 6,7 ppt dengan tingkat mortalitas Ich sebesar 86,28 % selama 12 jam.

Selain itu, terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila dan penyakit ikan yang disebabkan Aeromonas hydrophilia. Hasil penelitian menemukan bahwa konsentrasi ekstrak sirih 3,125 mg/ml sudah dapat membunuh bakter Aeromonas hydrophilia i secara sempurna.

b.    Ekstrak Daun Kipahit (Picrasma javanica)
Ekstrak daun kipahit diuji untuk pengobatan ikan gurami Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit mycobacteriosis.

Pengobatan bagi ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya, dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:
1.    Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)
  • Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.
  • Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
  • Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60 menit dengan diawasi terus menerus.
  • Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari kemudian.
2.    Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan 2-3,5% selama 3 menit.

Untuk pemberantasan parasit di kolam, bahan tersebut dilarutkan dalam air hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.

3.    Pengobatan dengan garam dapur.

Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit mendapatkan bahan-bahan kimia.
Caranya:
  1. siapkan wadah yang diisi air bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai rata;
  2. ikan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat ini berbahaya, lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja.
  3. Setelah itu segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya dipindahkan kembali ke dalam kolam;
  4. pengobatan ulang dapat dilakukan 3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.

Sumber :
Halim, Mochamad Abdul. 2011. Budidaya Ikan Gurami. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyuluhan KP-BPSDMKP. Jakarta
http://www.medialuhkan.blogspot.co.id/

TEKNIK PEMBENIHAN BAWAL BINTANG (Trachinotus blochii Lacepede)

Sabtu, 09 Januari 2016

MANAJEMEN PAKAN PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)



1.
Pakan berkualitas kualitas (referensi dari pembudidaya yang sudah mencoba) dan ketersediaan di wilayah sekitar (efisiensi biaya transportasi), pemilihan produk didasarkan pada bukti
2.
Ukuran pakan disesuaikan dengan bukaan mulut ikan, dengan tujuan pertumbuhan ikan rata (racak)
3.
Feeding program (program pakan)


Jumat, 08 Januari 2016

MANAJEMEN BENIH PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)



-
Benih dari induk yang unggul ( bersertifikat pemerintah/swasta )
-
Benih sehat, gerak aktif dan lincah
-
Ukuran sama/seragam
-
Dari satu induk yang sama (kecepatan tumbuh sama)
-
Warna seragam
perbedaan warna benih menunjukkan tingkat kesehatan benih yg beragam atau dengan kata lain benih sudah terinfeksi sehingga mempengaruhi lender dan pigmen sebagai system immune.
-
Organ lengkap
Kumis yang tidak lengkap/rontok menandakan ikan pernah terserang penyakit, termasuk sirip yang tidak utuh lagi bentuknya. Patil yang tidak lengkap menunjukkan kualitas induk masih sangat dekat kekerabatannya (inbreed) sehingga dapat dipastikan akan diikuti kelainan organ atau daya tahan ikan.
-
Bentuk proporsional
-
Benih dari pembenih/ hatchery yang terpercaya

Sumber: 
Komunitas Masamo Pekalongan. 2013. Budidaya Lele Biofloc (Standart Operational Procedure). Pekalongan

MANAJEMEN AIR PADA BUDIDAYA LELE BIOFLOC (Standart Operational Procedure)



1.
PERSIAPAN MEDIA

a.
Desinfektan (suci hama) Kolam


·      Disinfeksi dg menggunakan chlorine (kaporit)
Kolam diisi penuh, larutkan chlorine 30 ppm diamkan selama 3 hari agar efek chlorine bisa teroksidasi, untuk mempercepat oksidasi gunakan aerasi yang kuat atau bila kolam full terkena sinar matahari dalam waktu 3 hari efek chlorine akan hilang
·      Tujuan disinfektan adalah mensterilkan organisme di kolam terutama bakteri pathogen dan parasit yang mengganggu pertumbuhan ikan.

Sabtu, 14 November 2015

Minggu, 08 November 2015

PENANGANAN HAMA DAN PENYAKIT UDANG WINDU


Usaha pembenihan udang windu dilakukan untuk menutup kebutuhan benih ditambak yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah benih yang tersedia di alam. Berbagai masalah timbul dalam usaha pembenihan, meningkatkan daya pikir dan semangat para pengelola untuk menghadapi segala resiko yang ada.
            Salah satu masalah yang penting adalah serangkaian penyakit, baik dalam proses pembenihan maupun proses pembesaran di tambak. Masalah penyakit ini sebagaian besar terjadi dan mempengaruhi produksi udang pada tingkat pembenihan. Beberapa cara pengobatan dilakukan, tetapi perlu diketahui bahwa tindakan pengobatan pada dasarnya merupakan suatu usaha yang tidak diutamakan untuk diterapkan dalam pembenihan atau pembesaran udang. Tindakan yang paling tepat dalam menangani masalah penyakit adalah tindkan pencegahan.