Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Layanan Informasi Penyuluhan Perikanan

Sabtu, 27 Oktober 2018

BUDIDAYA UDANG GALAH


A. PENDAHULUAN

 Udang galah (Macrobrachium rosendergii, de Man) atau juga dikenal dengan Giant Tiger Prawn termasuk golongan krustase dari famili Palaemonidae, merupakan jenis yang terbesar ukurannya dibandingkan udang-udang air tawar lainnya. Udang yang diklaim merupakan udang asli oleh India dan Indonesia ini merupakan salah satu jenis udang yang semakin populer karena rasanya yang lezat, ukurannya cukup besar, dan mudah dibudidayakan. Menu dari udang ini umumnya dalam bentuk utuh (komplit dengan kepala atau head-on); berbeda dengan jenis udang lain yang sering disajikan dalam bentuk tanpa kepala (headless). Mengapa demikian, bukan tanpa alasan; rupanya pada bagian kepala itulah ada kandungan steroid, yang bermanfaat meningkatkna kebugaran tubuh kita. Kepopuleran di negeri kita diawali dengan dibukanya rumah makan khusus udang galah oleh Mang Engking di Sleman, Yogyakarta, di lahan budidaya udangnya. Dimulainya usaha rumah makan khusus udang galah itu pun berawal dari suatu hal yang unik terkait dengan wisata dan itu merupakan salah satu rahmat. Kini menu udang galah sudah berkembang di beberapa kota seperti Jakarta, Bali, Surabaya, dll.


 Udang ini juga mempunyai pasar baik lokal maupun ekspor, meski yang terakhir ini masih terkendala kurangnya pasok. Di negeri kita, udang galah berasal dari hasil tangkapan alam dan dari budidaya. Udang yang di sungai-sungai di luar Jawa seperti Kalimantan, Selawesi, dan Sumatera masih dapat diperoleh masyarakat setempat di sungai-sungai, rawa dan danau. Di beberapa tempat udang menjadi salah satu obyek wisata pancing yang cukup menarik. Usaha budidaya udang yang hidupnya di perairan tawar dan juga payau ini boleh dikatakan baru populer akhir-akhir tahun ini, dan potensi pengembangannya cukup cerah karena permintaan cukup besar dan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tersedia luas.
Pembudidayaan udang ini diawali dengan produksi benih di panti-panti pembenihan (hatchery), kemudian benih udang galah hasil panti benih dibesarkan di kolam-kolam air tawar dengan teknologi yang sederhana.


B. MENGENAL UDANG GALAH

Sebelum mempelajari teknik budidayanya, marilah kita mengenal lebih jauh perihal udang ini, baik pengenalan species, karakteristik maupun sifat-sifatnya.
Klasifikasi udang galah (Mudjiman, 1983)
Phyllum        : Arthropoda
Subphyllum   : Mandibulata
Kelas            : Crustacea
Subkelas       : Malacostraca
Ordo            : Decapoda
Famili           : Palamonidae
Subfamil       : Palamoniae
Genus                    : Macrobrachium
Species         : Macrobrachium rosenbergii, de Man


C. KARAKTERISTIK MORFOLOGIS

Secara umum, udang galah mempunyai karakteristik morfologis sebagai berikut:
·     Tubuh beruas–ruas sebanyak 5 ruas yang masing-masing dilengkapi sepasang kaki renang; kulit keras dari chitin; pelura ke dua menutupi pleura pertama dan ke tiga;
·     Badan terbagi tiga bagian : kepala+dada (cephalothorax); badan (abdomen); dan ekor (uropoda);
·        Cephalothorax dibungkus karapas (carapace);
·      Tonjolan seperti pedang pada carapace disebut rostrum dengan gigi atas sejumlah 11-15 buah dan gigi bawah 8-14 buah.;
·       Kaki jalan ke dua pada udang dewasa tumbuh sangat panjang dan besar, panjangnya bisa mencapai 1,5 kali panjang badan, sedang pada udang betina pertumbuhan tidak begitu mencolok;

D. KARAKTERISTIK HABITAT/BIOLOGIS DAN SIFAT-SIFATNYA

Sedang karakteristik habitat/biologis udang galah adalah:
·      Memiliki dua habitat yaitu air payau salinitas 5-20 ppt (stadia larva-juvenil), dan air tawar (stadia juana-dewasa) (Gambar 3);
·        Matang kelamin umur 5 – 6 bulan (mendekati muara sungai untuk memijah lagi;
·       Mengalami beberapa kali ganti kulit (molting) yang diikuti dengan perubahan struktur morfologisnya, hingga akhirnya bermorfologis menjadi juvenil (juana);

Selain morfologi, untuk membudidayakan ikan/udang perlu diketahui sifat-sifatnya; beberapa sifat yang penting diketahui antara lain adalah :
·         Euryhalin, yaitu dpt hidup pada kisaran salinitas yg lebar (0-20 ppt);
·         Omnivora, yaitu pemakan segala (tumbuhan dan hewan);
·     Pada stadia larva, udang galah memakan plankton hewani (zooplankton), seperti rotifera, protozoa, cladocera, dan copepoda;
·      Stadia Post larva, juvenil, dan dewasa : memakan cacing, serangga air, udang renik, telur ikan, ganggang, potongan tumbuh – tumbuhan air, potongan hewan, jasad penempel, hancuran biji – bijian dan buah – buahan, siput, dan sebagainya, juga memakan jenisnya sendiri (kanibal, khususnya ketika molting);
·       Nokturnal, yaitu aktif makan malam hari. Jika lingkungan hidupnya dapat dibuat relatif gelap udang akan aktif makan walaupun siang hari;
·     Larva bersifat planktonis, aktif berenang, tertarik oleh cahaya tetapi menjauhi sinar matahari;
·         Pada stadium pertama (I), larva cenderung berkelompok dekat permukaan air dan semakin lanjut umurnya akan semakin menyebar dan individual serta suka mendekati dasar. Di alam larva hidup pada salinitas 5 – 10 0/00..

Perkembangan stadia udang galah secara garis besar disajikan pada Gambar berikut:




E. CIRI-CIRI UDANG GALAH JANTAN DAN BETINA
Perbedaan antara udang jantan dan udang betina adalah sebegai berikut:
Bentuk badang udang jantan dibagian perut lebih ramping dan ukuran pleuron lebih pendek, sedang pada betina bagian perut tumbuh melebar dan pleuron agak memanjang. Letak alat kelamin jantan pada pasangan kaki jalan ke lima, pada betina pada pasangan kaki jalan ke tiga.

Udang jantan:
·         Relatif lebih besar;
·    Pasangan kaki jalan yang kedua relatif lebih besar dan panjang (bahkan dapat mencapai 1,5 kali panjang total tubuhnya);
·         Bagian perut lebih ramping;
·         Ukuran pleuron lebih pendek;
·         Alat kelamin jantan terdapat pada di antara pasangan kaki jalan kelima.

Udang betina:

·     Tubuh lebih kecil, badan agak melebar, demikian pula kaki renangnya, membentuk ruang untuk mengerami telur (broodchamber);
·         Pleuron memanjang;
·    Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang udang jantan;
·      Alat kelamin terletak pada pasangan kaki ke tiga, merupakan suatu lubang yang disebut thelicum.

Khusus untuk ukuran kaki jalan pada udang galah yang dikenal berukuran panjang/besar, telah dihasilkan varietas yang bercapit lebih kecil yaitu yang disebut Gi-Makro. Capit yang lebih kecil ini mempunyai keunggulan tersendiri.


F. PERSYARATAN LOKASI
Beberapa kriteria lokasi/calon lokasi yang baik untuk hatchery adalah :
·       Lokasi hendaknya mempunyai sumber air laut dan air tawar, karena untuk pemijahan dan larva stadia awal udang galah membutuhkan air payau;
·         Lingkungan sekitar bebas dari pencemaran, agar kualitas air pasok memenuhi syarat kebersihan dan bebas bahan pencemar.
·         Lokasi aman dari banjir dan bencana alam lain;
·         Tersedia sumber listrik;
·         Tersedia tenaga kerja;
·         Kebutuhan sarana budidaya terjamin;
·         Aksesibilitas baik;
·         Keamanan terjamin;
·         Pemasaran benih mudah.

Air sumber harus memenuhi baik kuantitas maupun kualitasnya. Semakin tinggi kualitas unsur-unsur tersebut maka akan semakin kuat mendukung keberhasilan usaha. Kualitas air harus memenuhi syarat baik fisik, kimiawi maupun biologi. Harus dapat menyediakan air dengan salinitas 12 ppt. Nilai-nilai parameter kualitas air dijsaikain pada Tabel berikut:

pH
7-8,5
Suhu (oC)
25-30
H2S (ppm)
nil
Chlorin
nil
Nitrat (ppm)
20
Nitrit (ppm)
0,1
Kesadahan total air tawar (mg/l setara CaCO3)
<100
Kekeruhan
nil
TDS (ppm)
217
Fe (ppm)
<0.02
PO4 (ppm)
0,15
CO2 bebas
nil


G. SARANA PRASARANA

Fasilitas yang Digunakan Untuk Usaha Pembenihan
Dalam bisnis benih udang galah, ada dua macam unit produksi penghasil benih, yaitu Panti Benih atau yang dikenal dengan Hatchery, dan yang ke dua adalah panti benih skala pekarangan atau dikenal sebagai Backyard Hatchery. Fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk suatu hatchery udang galah adalah sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.

No
Jenis Fasilitas/Peralatan
Keterangan
1.
Bangunan tempat bak-bak pemeliharaan, gudang, alat lab, ruang kerja/administrasi, dll.
Bangunan indoor menunjang untuk terciptanya suhu media budidaya relatif tinggi dan stabil.
2.
Bak-bak pemeliharaan induk
Bisa berupa kolam tanah. Ukuran bergantung pada banyaknya induk (ukuran besar hingga 400-500 m2)
3.
Bak pemijahan
Kolam tanah ukuran minimal 100 m2 dengan kedalam air sekitar 75 cm – 100 cm.
4.
Bak penetasan
Bak fibreglass ukuran (0,5 X 1 X 1) M 3 dengan volume 500 liter.
5.
Bak pemeliharaan larva
- Kolam tanah ukuran minimal 100 m2 dengan kedalam air sekitar 75 cm – 100 cm, atau
- Bak beton kapasitas minimal 5-10 m3.

6.
Bak pemeliharaan yuwana
- Bak fiberglass volume 500 liter– 1.000 liter, atau
- Bak beton kapasita 5–10 m3.

7.
Bak pemeliharaan tokolan 1-2
- Bak beton volume 5–15 m3, atau
- Kolam tanah ukuran minimal 200 m – 400 m.

8.
Bak penetasan Artemia salina, bak untuk pengobatan, dll.
- Bak fibreglass, conical, ukuran bergantung banyaknya Artemia yang akan ditetaskan (10-500 ltr).

7.
Tandon air laut, air tawar, dan bak pencampuran air
Bak beton, kapasitas minimal 3x volume bak-bak larva/benih.
5.
Pompa air laut, air tawar
Kapasitas bergantung pada besar kecilnya unit prosuksi (kapasitas 50
ltr/detik atau lebih besar)
6.
Peralatan aerasi
Blower sentral atau Hi-blow, sesuai unit produksinya.
7.
Perlengkapan pengepakan
Botol oksigen dan isinya, styrofoam, plastik packing, dan bahan lain.
8.
Peralatan bantu kerja (timbangan, ember, baskom, slang sipon, dll.

9.
Peralatan lab (kualitas air, mikroskop, timbangan obat, dll)

10.
Sumber listrik (PLN/Genset)
Daya sesuai kebutuhan.
11.
Kendaraan angkutan

12.
Peralatan adminsitrasi

13.
Mess pekerja pos jaga, dll.

14.
Dapur, dll.




Untuk backyard hatchery, sudah barang tentu fasiltas/peralatannya terbatas, yaitu :
·         bak-bak pemeliharaan larva yang umumnya dari tembok dan hanya ditutup dengan terpal;
·         peralatan-peralatan bantu kerja budidaya seperti pompa, slang, aerator, perlengkapan pengepakan, timbangan obat;
·         peralatan kualitas air yang sederhana, dll.

Ruang indoor : harus dapat mempertahankan suhu ruang agar cukup tinggi (air media pemeliharaan larva/benih +/-28-31oC). Suhu cukup tinggi/optimal tersebut akan menunjang (1) laju pertumbuhan lebih cepat, (2) konversi pakan lebih kecil, (3) serta resiko terserang penyakit lebih rendah. Untuk bak-bak larva/benih pada backyard hatchery umumnya cukup dengan menutupnya dengan terpal.
Bak pemeliharaan larva bisa dari berbagai bentuk baik persegi maupun conical. Bak bentuk conical mempunyai keunggulan tersendiri yaitu lebih efektif dalam pengeluaran kotoran, dengan catatan dimensi, debit aliran air dan sirkulasinya menunjang. Untuk bak-bak yang
terbuat dari beton dan fibreglass atau sejenisnya, permukaannya harus benar-benar halus. Hal ini dimaksudkan agar pembersihan kotoran dan penyuci-hamaan dapat lebih efektif, karena kotoran dan permukaan yang tidak rata menjadi tempat hidup dan berkembangnya organisme penyakit.
Salah satu sarana penting yang harus ada pada hatchery adalah sarana biosekuriti, berupa bak cuci kaki (foobath), bak cuci tangan (handwash), dan pagar keliling.
Unit sarana budidaya yang umum ada di masyarakat adalah merupakan sistim air diam (stagnant water system). Dalam perkembangannya, unit budidaya sistim resirkulasi sudah mulai diaplikasikan. Sistim ini mempunyai keunggulan yaitu dengan luas/volume yang sama, produksinya lebih besar (tingkat produktivitasnya lebih tinggi). Namun demikian dalam unit sistim ini perlu pengontrolan yang ketat agar terhindar dari serangan penyakit.
Adapun instalasi air harus didesain seefektif mungkin agar kebutuhan air terpenuhi dan dengan biaya operasi yang minimal, serta longlife.


H. TEKNIK PRODUKSI BENIH

1. PERSYARATAN INDUK
Induk yang baik menunjang dihasilkannya benih yang cukup banyak dan kualitasnya memenuhi syarat sebagai benih sebar..

Persyaratan kualitatif:
a)    Induk berasal dari hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk kelas induk dasar;
b)   Warna kulit biru kehijau-hijauan, kadang ditemukan kulit agak kemerahan, warna kulit juga dipengaruhi oleh lingkungan.
c)    Kesehatan baik, yaitu :anggota atau organ tubuh lengkap, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, alat kelamin tidak cacat (rusak), tubuh tidak ditempeli oleh jasad patogen, tidak bercak hitam, tidak berlumut, insang bersih.
d)   Gerakannya aktif.

Persyaratan kuantitatif
Kriteria kuantitatif sifat reproduksi disajikan pada Tabel berikut:

Parameter
Satuan
Kriteria
Jantan
Betina
1. Umur
bulan
8-20
8-20
2. Bobot tubuh
g
>50
>40
3. Fekunditas
butir/gram bobot tubuh
-
30.000-75.000
4. Diameter telur
mm
-
0,6-0,7

Dianjurkan memilih induk yang sedang mengandung telur untuk ke dua kalinya atau berikutnya. Apabila induk diambil dari satu populasi dalam kolam pembesaran, maka dipilih induk yang pertumbuhannya cepat dan paling besar, selanjutnya dipelihara dalam kolam yang terpisah.

2. PENGELOLAAN INDUK
Prinsip-prinsip dalam pengelolaan induk:
ü  kepadatan 2-3 ekor/m2;
ü  sebaiknya induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam terpisah;
ü  pakan cukup gizi (protein 25-30 %, dan lemak 5%);
ü  dosis pemberian pakan adalah 3-5 %, frekuensi 4 kali sehari;
ü  pembersihan kotoran dalam bak induk dilakukan setiap dua hari bersamaan dengan pergantian air (untuk kolam tembok/beton).

Pakan yang bergizi dan cukup menunjang perkembangan gonad/ produksi telur.

3. MEMIJAHKAN DAN MENETASKAN TELUR
Tahapan dalam pemijahan udang galah adalah sbb:


















Memijahkan. Induk-induk yang telah matang gonad dimasukkan ke dalam kolam pemijahan dengan padat tebar 4-5 ekor/m² dan perbandingan antara jantan dan betina 1:3. Setelah pembuahan, telur diletakkan pada ruang pengeraman (broodchamber) yang terdapat di antara kaki renang induk betina hingga saatnya menetas.

Pemeriksaan pembuahan. Induk yang matang telur dapat dilihat dari telur-telurnya yang berwarna abu-abu. Induk-induk yang matang telur kemudian dipindahkan ke bak penetasan.

Jumlah telur merupakan salah satu indikator baik atau tidaknya induk.

Menetaskan telur. Tahapan pekerjaannya adalah sebagai berikut:
ü  Penyiapan media penetasan
ü  Sebelum dimasukkan ke dalam bak penetasan, induk-induk disuci-hamakan
ü  Induk diberi pakan dan diaerasi. Pakan yang tidak mudah mengotori air seperti kelapa, ubi atau kentang yang dipotong-potong kecil; kalaupun pelet, maka harus yang mempunyai stabilitas dalam air (water stability) yang tinggi.
ü  Telur akan menetas setelah 6-12 jam.
ü  Induk yang telurnya belum menetas dipindahkan ke bak penetasan lainnya, karena perbedaan umur larva yang terlalu jauh menyebabkan pertumbuhannya akan berbeda besar, memperpanjang waktu pemeliharaan dan merangsang terjadinya kanibalisme. Untuk lebih jelasnya.

Kualitas nauplii perlu diperiksa. Bila tidak baik maka lebih baik nauplii dibuang, karena tidak akan diperoleh larva yang bagus. Kriteria nauplii yang baik, sebagai berikut (SNI: 01- 6486.2 – 2000) :
a)    Warna : warna tubuh kehitaman, keabu-abuan, tidak pucat;
b)   Gerakan : berenang aktif, periode bergerak lebih lama dibandingkan dari periode diam;
c)    Kesehatan dan kondisi tubuh : sehat terlihat bersih, tidak berlumut, organ tubuh normal;
d)   Keseragaman : secara visual ukuran nauplii seragam;
e)    Respon terhadap rangsangan : bersifat fototaksis positif atau respon terhadap cahaya;
f)     Daya tahan tubuh : dengan mematikan aerasi beberapa saat, nauplius yang sehat akan berenang ke permukaan air.


I. PEMELIHARAAN LARVA HINGGA MENJADI BENIH

1) Pemeliharaan Larva
Secara ringkas, pentahapan pemeliharaan larva meliputi :
ü  Penyiapan kolam, dan air media pemeliharaan,
ü  Penebaran nauplii,
ü  Pemberian/Pengelolaan pakan,
ü  pengelolaan kualitas air,
ü  Monitoring pertumbuhan,
ü  Monitoring kesehatan, dan
ü  Pemanenan.

a) Penyiapan Kolam dan Media Pemeliharaan
Tahapan:
ü  Bak dicuci bersih;
ü  Disuci-hamakan, bisa dengan dijemur dibawah terik Matahari atau dengan desinfektan (misalnya kaporit 50-100 mg/liter air (50-100 ppm);
ü  Dibilas dengan air sabun kemudian dicuci bersih;
ü  Air bersih dari tandon dimasukkan ke dalam bak dengan disaring menggunakan filterbag, hingga tinggi air 70-80 cm;
ü  Diaerasi.


b) Penebaran Larva
Setelah satu hingga dua hari di bak penetasan, larva dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva. Padat penebaran larva antara 100–150 ekor/liter.


c) Pengelolaan pakan

Pakan alami
Pakan larva harus (a) berkualitas tinggi, (b) ukuran sesuai bukaan mulut larva dan (c) mudah tecerna. Pakan alami yang terbaik untuk larva udang galah adalah naupliii Artemia salina; selain itu juga dapat digunakan Moina sp. atau dikenal sebagai kutu air.
Langkah awal adalah penentuan jumlah nauplii yang dibutuhkan;

Penetasan artemia perlu dilakukan dengan cermat agar diperoleh tingkat penetasan yang tinggi. Teknik penetasan Artemia salina dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
 Terlebih dahulu didekapsulasi;
 Langsung ditetaskan.

Dekapsulasi adalah proses menyiapkan Artemia salina agar melunakkan cangkang kista Artemia. Manfaatnya adalah :
 agar dapat diperoleh tingkat penetasan lebih tinggi;
 mengurangi resiko termakannya cangkang (dari nauplii Artemia teknik penetasan langsung); dan
 bisa langsung diberikan untuk larva ikan yang sudah cukup ukuran bukaan mulutnya.

Teknik penetasan langsung adalah dengan langsung menetaskan kista Artemia dalam larutan garam yang diaerasi kuat.
Peralatan dan bahan yang dipergunakan untuk dekapsulasi dan penetasan adalah :
Bahan (utk 100 g kista artemia):
a. Kapur (CaO) 25 g (2x12,5 g)
b. Bleaching powder 55 g (2x27,5 g)
c. Es batu secukupnya
d. Na-thiosulfat (Na2S2O3.5H2O) 0,05 g (minimal)
e. Garam murni secukupnya
f. Air bersih secukupnya

ALAT :
a. Wadah kapasitas 1 ltr 2 unit
b. Perangkat aerasi 2 bh
c. Filter bag (dg plankton net) mesh 250 um. 1 bh
d. Thermometer 1 bh
e. Pengaduk 1 bh
f. Timbangan ketelitian 0,01 g, kap 500 g 1 bh
g. Wadah utk menimbang bahan 4 bh
h. Centong 2 bh
i. Slang sipon 1 bh
j. Mikroskop 1 bh

PROSEDUR :
Prosedur penetasan Artemia yang diawali dengan dekapsulasi disajikan Gambar di bawah ini.


Pemberian pakan dimulai pada hari ke tiga setelah menetas, dilakukan setiap hari setelah penggantian air atau siphon pada sore hari. Naupli Artemia salina diberikan kepada larva setelah penggantian air (air tersisa 2/5 bagian, dibiarkan selama ± ½ jam, untuk memberi kesempatan kepada larva untuk menangkap nauplii Artemia salina). Aerasi dihidupkan kembali setelah selesai memberikan pakan. Pada hari-hari ke 4-5, Artemia salina sebaiknya diberikan pada malam hari. Jumlah nauplii disesuaikan dengan umur larva udang, sebagaimana disajikan pada Tabel berikut:

Hari ke-
Naupli Artemia salina (ekor)
Pakan Buatan, Berat Kering (mg)
3
5
0
4
10
0
5-6
15
0
7
20
0
8
25
0
9
30
0
10-11
35
0
12
40
0
Hari ke-
Naupli Artemia salina (ekor)
Pakan Buatan, Berat Kering (mg)
13-14
45
70
15-24
50
80-90
25-30
45
100-180
30-++
40
200
Sumber : AQUACOP, 1983 dalam Hadie dan Hadie, 1993

Perlu diperhatikan bahwa kepadatan nauplii Artemia menjadi patokan dalam pemberian pakan, karena larva tidak mengejar-ngejar nauplii. Bila kebutuhan 5 ekor, maka pada saat mau pemberian berikut masih harus ada 1 ekor naupli; bila tidak ada berarti kurang, bila lebih perlu diidentifikasi masalahya. Cara praktis menentukan jumlah adalah untuk bak volume air 10 ton, dibutuhkan 50-250 g kista Artemia untuk dapat dihasilkan 10-50 juta nauplkii.

Pakan buatan
Pakan buatan sebagai pakan tambahan perlu diberikan untuk melengkapi kebutuhan gizi bagi larva udang, diberikan pada masa akhir stadia larva. Komposisi bahan pakan buatan dan analisis proksimatnya ditampilkan pada Tabel berikut:
Bahan Pakan
Prosentase (%)
Cumi-cumi
27,6
Udang
27,6
Telur ikan
6,9
Telur Ayam
6,9
Minyak ikan
14,0
Vitamin
1,0
Garam
1,0
Alginate
15,0
Analisis Proksimat
Prosentase
Protein
54,9
Lemak
19,7
Abu
7,7
Sumber : AQUACOP, 1977 dalam Hadie dan Hadie, 1993
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan buatan adalah ukuran pakan dan dosisnya harus sesuai dengan umur larva. Untuk memperoleh ukuran pakan yang sesuai, dapat menggunakan saringan dengan ukuran tertentu. Ukuran pakan yang diberikan berdasarkan ukuran saringan menurut umur larva disajikan pada Tabel berikut:

Umur larva (hari)
Ukuran saringan (mesh/cm)
12
13
14-15
25-30
30-pasca larva
16
16
8
8
8


d) Kualitas air
Kualitas air merupakan faktor penting selama pembenihan berlangsung. Baik buruknya kualitas air akan sangat menentukan hasil yang akan dicapai. Air yang digunakan harus memenuhi kriteria fisik, kimia, dan biologi.
Beberapa parameter kualitas air yang perlu dipantau antara lain oksigen terlarut (DO), salinitas, derajat keasaman (pH), dan suhu.

1)    Oksigen terlarut
Kandungan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di dalam air merupakan sumber respirasi bagi larva, oleh karenanya harus selalu tersedia di dalam media. Keperluan organisme terhadap oksigen terlarut relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kisaran oksigen terlarut 5 ppm atau lebih merupakan kadar yang cukup baik untuk pertumbuhan larva udang galah.
Kandungan oksigen dalam air media budidaya dipengaruhi oleh :
·         padat tebar udang atau biomas udang;
·    banyak tidaknya kotoran atau senyawa-senyawa lain yang mengkonsumsi oksigen dalam air media budidaya;
·         tinggi rendahnya populasi organisme lain;
·        tingkat aerasi serta efektivitas absorbsi oksigen ke dalam air media budidaya; serta
·         Tingkat pergantian air.

2)    Salinitas
Salinitas atau kadar garam yang terkandung dalam air merupakan salah satu parameter yang perlu diperhatikan dalam pembenihan. Udang galah memiliki toleransi salinitas berkisar 0-15 ppt. Pada fase larva udang galah mampu tumbuh dengan baik pada salinitas 10-15 ppt. Untuk kebutuhan kadar garam media pemeliharaan larva, dapat berasal dari air laut dan dari garam dapur, atau campuran dari keduanya. Informasi terakhir adalah bahwa kombinasi air laut dengan garam dapat meningkatkan laju pertumbuhan larva udang galah (Khasani, 2010).

3)    Derajat keasaman (pH)
Nilai derajat keasaman (pH) sangat terkait erat dengan ketersediaann CaCO3 dalam media budidaya. Selain sebagai penyangga atau faktor pendukung kestabilan pH, senyawa tersebut merupakan faktor yang penting pada proses pergantian kulit (moulting). pH media pemeliharaan larva udang galah sebaiknya berkisar antara 7 – 8,5. Untuk mengukur pH dapat digunakan pH meter atau kertas lakmus. Adanya pergantian air secara rutin menunjang ketrersediaan unsur tersebut.

4)    Suhu
Suhu air dipengaruhi oleh musim, lintang (altitude), ketinggian dari permukaan laut (latitude), pergantian siang dan malam, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman badan air (Effendi, 2003). Peningkatan suhu dapat mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air, termasuk di dalamnya oksigen.
Suhu media perlu dipantau, karena memberi pengaruh cukup besar bagi kelangsungan hidup, pertumbuhan larva, serta konversi pakan. Suhu optimal untuk kehidupan larva udang galah adalah 28 – 30 ºC. Suhu apat diukur dengan menggunakan termometer alkohol/ air raksa, dll.



e) Monitoring pertumbuhan
Monitoring pertumbuhan larva secara berkala sangat penting dilakukan. Maksud pekerjaan ini adalah guna mengetahui apakah perkembangan larva normal, ataukah ada kelainan (kurang baik). Monitoring pertumbuhan adalah dengan mengukur panjang larva (panjang total atau total length / TL) paling tidak setiap 5 hari.
Jumlah larva yang diambil sebagai contoh minimal 30 ekor. Hasil pengukuran kemudian dianalisis apakah ada kecenderungan perbedaan yang mencolok. Bila kurang baik maka perlu diketahui faktor-faktor yang kiranya berpengaruh terhadap hal tersebut.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju pertumbuhan larva/benih udang galah pada dasarnya meliputi empat golongan yaitu: (1) mutu telur/naupliii, (2) lingkungan/kualitas air media pemeliharaan, (3) pakan, serta (4) ada tidaknya serangan penyakit.
Mutu telur bisa diketahui dari ukuran serta tingkat penetasannya (hatching rate). Ukuran telur yang baik adalah 0,6-0,7 mm, dan tingkat penetasan di atas 80%.


f) Pemanenan
Panen seleksi dilakukan pada hari ke 28-30 dengan syarat larva yang sudah menjadi pasca larva (PL) atau ukuran 1-3 cm sekitar 30-75% jumlah total larva. Panen menggunakan serokan berukuran mesh size mesh 50 setelah air diturunkan hingga tersisa 30%.
Larva yang sudah ditampung selanjutnya diseleksi (grading) dengan cara merendam seser dalam air. Secara biologis udang galah yang sudah mencapai PL akan menempel pada seser tersebut. Selanjutnya larva dimasukkan dalam wadah yang telah disiapkan.
Pemanenan total dilakukan setelah larva menjadi pasca larva seluruhnya. Dari hasil panen kemudian dihitung tingkat kelangsungan hidupnya (sintasan).


2) Pentokolan
Kolam yang dipergunakan bisa dari tembok untuk ukuran kecil (volume kolam 5-10 ton), atau dengan kolam tanah dengan luasan 200-400 m2. Kondisi pemeliharaan secara umum mulai dari padat tebar juvenil, penggunaan bahan-bahan seperti kapur, pakan, obat-obatan, hingga panen, yang lazim disebut standar produksi disajikan pada Tabel berikut:

No.
Parameter
Satuan
Juwana
Tokolan
Bak
Kolam
1.
Pupuk organik
g/m2
-
-
200-500
2.
Penebaran
- padat tebar
- ukuran
Ekor/m3
gr/ekor
80.000
0,0001
1.000
AS0,002
100
0,002
3.
Pakan
- tingkat pemberian
- frekuensi pemberian
%/hari
Kali/hari
30
8
20
4
20
4
4.
Waktu pemeliharaan
Hari
31-40
80
100
5.
Panen





- sintasan
- ukuran

%
gr
40
0,002
70
1
75
2








Secara ringkas, pentahapan pemeliharaan juvenil menjadi tokolan meliputi :

  • Penyiapan kolam, dan air media pemeliharaan,
  • Penebaran juvenil,
  • Pemberian/Pengelolaan pakan,
  • Pengelolaan kualitas air,
  • Monitoring pertumbuhan,
  • Monitoring kesehatan, dan
  • Pemanenan dan pengemasan.


Persiapan kolam dan media budidaya. Persiapan ini diarahkan agar tersedia air media budiaya yang kaya dengan pakan alami dan dengan kualitas air yang sesuai untuk benih udang dalah.Tahapan persiapan kolam dan air media budidaya meliputi :
Pengeringan kolam, pembalikan tanah dasar, pemberian kapur, pemupukan, pengisian air sebatas untuk penumbuhan pakan alami, kemudian penambahan air media budidaya hingga kedalaman 50 cm. Ketinggian air ditingkatkan secara bertahap sejalan dengan pertumbuhan udang, hingga 100 cm.

Pengeringan dan pengapuran dimaksudkan agar dasar kolam bebas dari organisme penyakit dan meningkatkan pH tanah. Unsur karbonat dari kapur juga berpengaruh menstabilkan pH air media budidaya.
Pemupukan bisa dari jenis pupuk kandang atau pupuk kimia, ataupun kombinasi keduanya. Keunggulan pupuk kandang adalah dapat memberikan nutrisi secara bertahap, namun demikian harus diwaspadai potensi kandungan bibit penyakit. Untuk itu pupuk kandang harus sudah cukup kering. Silain sisi, pupuk kimia lebih praktis dan ketersediaannya lebih baik, namun pemakaian yang terus menerus dan kurang tepat dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah dasar kolam.

Penebaran juvenil. Penebaran juvenil diawali dengan proses aklimatisasi agar larva tidak stres dalam lingkungan hidup yang baru. Padat tebar juvenil (ukuran 0,002 g) untuk wadah dari bak fibreglass (dengan aerasi) adalah 1.000 ekor/m3,sedang untuk kolam (tanpa aerasi) adalah 100 ekor/m3.
Aklimatisasi atau penyesuaian kondisi pada lingkungan hidup yang baru, khususnya terkait dengan suhu dan salinitas. Caranya adalah dengan memasukkan kantong berisi juvenil ke dalam air kolam dan membiarkannya untuk beberapa waktu (10-15 menit) hingga suhu air di dalam kantong dan di kolam sama; setelah itu bila salinitas berbeda, masukkan air kolam secara perlahan ke dalam kantong agar penyesuaian salinitas secara bertahap.

Pemberian pakan. Pakan yang dipergunakan adalah pelet dengan kandungan protein cukup tinggi yaitu +/- 30%. Dosis pemberian adalah 20% dari berat biomas (berat total udang), dengan frekuensi pemberian 4 kali per hari.

Pengelolaan kualitas air. Pengelolaan kualitas air meliputi pemantauan pergantian air, dan pengukuran parameter kualitas air yaitu suhu, pH, dan DO. Diusahakan agar nilai-nilai parameter kualitas air atetap dalam batas optimum, yaitu :
  • suhu : 25-30oC;
  • pH : 6,5 – 8,5;
  • Oksigen terlarut lebih dari 5 mg/l

Selain iatu, ketinggian air dipertahankan antatra 50 cm–100 cm yaitu semakin besar ukuran udang maka semakin dalam air kolam.

Pemantauan pertumbuhan. Pemantauan pertumbuhan dilakukan dengan cara sampling. Semakin seragam ukuran berarti semakin baik, denhgan catatan laju pertumbuhan normal. Bila ukuran sudah sangat bervariasi, maka harus dilakukan grading dan memisahkan udang dengan kelompok ukuran berbeda pada kolam yang berbeda. Bila tidak dilakukan pemisahan maka resikop kenibalisme semakin tinggi.

Pemantauan kesehatan. Pemantauan kesehatan udang akan dijelaskan pada materi pokok terakhir.

Pemanenan. Umumnya udang (maupun ikan) mempunyai laju pertumbuhan nyang tidak sama, sehingga ukuran udang dalam kolamm menjadi bervariasi. Panen benih dapat dilakukan panen parsial, guna mengantisipasi terjadinya kanibalisme karena perbedaan ukuran.

J. PENGEMASAN
Pengemasan (packing) benih udang galah yang dapat dilakukan dengan sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem terbuka adalah larva dimasukkan dalam bak yang diaerasi atau dengan oksigen, sedang untuk sistim tertutup adalah pengemasan dengan menggunakan kantong plastik jenis PE (polyetilen) berukuran 70 x 30 cm. Perbandingan air dan oksigen adalah = 1 : 2 untuk pengangkutan kurang dari 8 jam dengan kepadatan perkantong 1.000 ekor/kantong.

Untuk pengangkutan, kantong berisi udang tersebut dimasukkan dalam boks styrofoam dan dimasukkan potongan es yang sudah dibungkus plastik guna menurunkan suhu ± 20 0C. Penurunan suhu bertujuan untuk menurunkan tingkat metabolisme yang berarti juga untuk menekan penggunaan oksigen, sehingga waktu pengangkutan dapat di perpanjang. Suhu rendah dalam transportasi benih udang berfungsi :
  • menurunkan tingkat metabolisme,
  • menurunkan aktivitas benih,
  • menekan pengeluaran kotoran, dan juga
  • menekan konsumsi oksigen.


K. PEMBESARAN UDANG GALAH

1.  LOKASI PEMBESARAN UDANG GALAH

Lokasi budidaya yang baik akan mendukung keberhasilan usaha budidaya. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan lokasi budidaya/pembesaran udang galah adalah sebagai berikut:
• Jenis tanah : lumpur berpasir;
• Air memadai untuk pengelolaan budidaya dengan sistim air mengalir (flow-through system);
• Akses dan komunikasi baik;
• Mudah memperoleh sarana produksi (saprodi);
• Tenaga kerja tersedia;
• Keamanan terjamin.

Jenis tanah lumpur berpasir dimaksudkan mempunyai tingkat kesuburan yang cukup tinggi dan tidak berpengaruh jelek terhadap air media budidaya di dalamnya.
Kecukupan air untuk terselenggaranya budidaya sistim air mengalir sangat penting artinya. Adanya pergantian air yang terus menerus akan memberikan suplai oksigen dan unsur hara secara terus menerus. Selain itu, pergantian air yang terus menerus memnberikan suasana segar dan menunjang pengeluaran kotoran dan senyawa-senyawa terlarut yang bersifat merugikan/toksik.
Lokasi dengan akses yang baik akan menunjang efektivitas dalam suplai sarana produksi dan memperlancara pemasaran hasil budidaya.

2.  FASILITAS
Kolam yang dipergunakan adalah kolam tanah, dengan ukuran sebaiknya minimal 500 m2. Sumber air harus mempunyai kualitas yang baik dan mencukupi kebutuhan untuk pengelolaan air kolam sistim mengalir (flow-through) dan tersedia sepanjang tahun. Kolam sebaiknya mempunyai kemalir, petak penangkapan, dan dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pengeluaran. Ketinggian pematang paling tidak 1 m. Kolam sebaiknya tidak bocor atau rembes, karena akan pengelolaan air akan terganggu.
Meski kemalir atau caren tidak wajib ada, namun demikian bagian yang lebih dalam ini bermanfaat untuk persembunyian udang ketika cuaca panas, pengumpulan kotoran, dan membantu dalam proses pemanenan.
Selain kolam, sejumlah fasilitas pendukung antara lain adalah gudang pakan, bahan dan peralatan lain sperti anco, timbangan, dll.

3.  TEKNIK PEMBESARAN UDANG GALAH
a)   Persiapan Kolam
Beberapa tahapan yang penting dalam mempersiapkan kolam budidaya adalah sebagai berikut:
  •  pengeringan kolam;
  •  pengolahan tanah dan perbaikan tanggul sewrta caren;
  •  Pengapuran : untuk tanah dengan pH 6,5–7 :10 – 20 g/m2;; sedang untuk tanah dengan pH 5 – 6 : 40 – 75 gram/m2;
  •  Pemupukan : pupuk kandang 200–500 g/m2; dan urea dan TSP 5 – 10 g/m2 setelah isi air 3 hari;
  •  Pemasangan shelter;
  •  Pengisian air kolam, dilakukan secara bertahap guna memberikan waktu berkembangnya pakan alami.

Shelter berfungsi selain untuk perlindungan terhadap predasi (pemangsaan), juga dapat berfungsi untuk perluasan substrat dasar kolam sehingga memungkinkan peningkatan padat tebar. Dengan fungsi yang terakhir maka jumlah produksi dapat ditingkatkan.

b)   Penebaran Benih
  • Penebaran benih dilakukan satu minggu setelah persiapan kolam secara lengkap;
  • Benih diperoleh dari Panti Benih (hatchery), diutamakan yang telah tersertifikasi;
  • Benih berkualitas baik : ukuran seragam dan gerakannya lincah.
  • Benih ditebar setelah melalui proses aklimatisasi untuk menghindari stres pada udang.

Benih kualitas baik dimaksud adalah yang sesuai dengan SNI 01- 6486.2 – 2000 tentang Benih Udang Galah (Macrobranchium rosenbergii, de Man) kelas benih sebar.
Kriteria kuantitatif tokolan udang galah :
1. Umur dari telur : lebih dari (>) 50 hari;
2. Panjang : 25 – 30 mm;
3. Berat : 1400 – 2600 mg;
4. Kesehatan/bebas penyakit : 80%;
5. Keseragaman populasi : 80%;
6. Daya tahan terhadap :
·      penurunan salinitas 30 ke 0 ppt : > 80%
·      penurunan suhu 30 ke 10oC : > 80%
·      perendaman formalin 500 ppm : > 80%
7. Rangsangan terhadap cahaya dan aerasi : + (positif)



4.  PERAWATAN/PEMELIHARAAN UDANG
Beberapa kegiatan perawatan dalam pemeliharaan/ pembesaran udang galah meliputi pemberian/pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, monitoring pertubuhan, monitoring kesehatan, dan panen serta pasca panen.

a)      Pengelolaan pakan
·      Pakan pellet komersial, dengan kandungan protein minimal 30%.
·      Dosis : tahap tokolan yaitu 10% dari berat biomasa, dan menurun pada tahap selanjutnya hingga 3% dari berat total udang sesuai dengan umur udang yang dipelihara sampai panen ukuran udang konsumsi yaitu size 20-30.

Kandungan
Kadar
Protein
Min 30%
Lemak
Min 5%
Serat Kasar
Maks 4%
Kadar Abu
Maks 10%
Kadar Air
Maks 12%

b)     Pengelolaan kualitas air
Secara garis besar, pengelolaan kualitas air meliputi :

·      Sistim air mengalir selelu dipertahankan;
·      Dsilakukan pemupukan ulangan bila densitas plankton kurang optimal, yang ditandai dengan semakin cerahnya air;
·      Kualitas air yang perlu dimonitor adalah suhu, pH, dan DO;
Suhu yang baik berkisar antara 25-30oC, pH sekitar 6,5-8,5, dan DO antara > 5 ppm.

c)      Beberapa pedoman cara pengukuran dan pemeriksaan
1)     Cara menentukan umur dan stadia : dihitung dari sejak telur menetas
2)     Cara mengukur panjang badan total tokolan : dimulai dari rostrum hingga uropoda dengan menggunakan jangka sorong atau penggaris dalam satuan mili meter (mm).
3)     Cara mengukur bobot tubuh tokolan : dilakukan dengan menggunakan timbangan analitis dalam satuan miligram (mg);
4)     Metoda pengambilan contoh. Metoda pengambilan contoh tokolan untuk pemeriksaan dan pengujian dilakukan secara acak dari populasi sebanyak 10 % atau minimal 30 ekor.
5)     Cara mengukur keseragaman benih udang : dilakukan dengan membandingkan ukuran sampel benih. Benih udang dikategorikan berukuran seragam bila 80 % dari populasi benih relatif sama, dan kurang dari 20 % berukuran lebih kecil atau lebih besar dari ukuran rataan.
6)     Cara mengukur ketahanan dan kesehatan : dilakukan dengan cara memberikan guncangan/perubahan yang mendadak; seperti salinitas, suhu air dan pengentasan dengan menggunakan bahan kimia, seperti formalin, malachyte green dan kalium pemanganat. Benur yang sehat mempunyai ketahanan tubuh yang kuat atau tahan terhadap guncangan/perubahan tersebut.
(a)   Cara menguji penurunan salinitas : dilakukan dengan cara memindahkan benur dari air media pemeliharaan (30 ppt -35 ppt) ke salinitas 0 secara mendadak. Selanjutnya dilakukan pengamatan selama 15 menit. Toleransi kematian benur kurang dari 20%.
(b)   Cara menguji penurunan suhu: dilakukan dengan memindahkan benur dari media pemeliharaan (suhu 28oC–32oC) ke suhu air 10 oC secara mendadak. Pengamatan dilakukan selama 1-2 jam, kemudian hitung persentase kematiannya. Toleransi kematian benur kurang dari 20 %.
(c)   Cara menguji dengan perendaman formalin: dilakukan dengan cara merendam benur ke dalam larutan formalin 500 ppm selama 15 menit, kemudian dihitung persentase benur yang mati dan toleransi kematian benur kurang dari 20 %.
7)    Cara pemeriksaan kesehatan benih udang:
(a)   Pengamatan secara visual dilakukan untuk memeriksa ektoparasit dan morfologi.
(b)   b) Pengamatan secara mikroskopis untuk menentukan adanya bakteri dan virus pada udang dilakukan di laboratorium.

5.  CARA PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN
a) Pemanenan
Setelah udang mencapai ukuran 20-30 ekor/kg, dilakukan pemanenan. Ada dua cara pemanenan yaitu :
  • Panen sebagian; dan
  • Penen total.

Panen sebagian dilakukan bila masih ada udang yang ukurannya belum mencapai ukuran konsumsi/yang dikehendaki. Caranya adalah dengan menyurutkan air hingga kedalaman 20-30 cm, kemudian udang dipanen menggunakan waring dengan mata jaring 4 mm. Udang yang masih kecil (<30 ekor/kg) dikembalikan lagi untuk dilanjutkan pemeliharaannya. Panen total dilakukan setelah udang mencapai ukuran 20-30 ekor/kg. Dalam pemanenan sebaiknya kolam selalu dialiri air secukupnya agar kondisi udang tetap sehat.

b) Pengemasan
Pengemasan dan pengangkutan udang hasil panen bisa dilakukan dalam keadaan mati maupun dalam keadaan hidup. Dalam pengemasan dalam keadaan hidup, perlu dilakukan penurunan suhu agar tingkat metabolisme menurun, dengan demikian menurunkan tingkat aktifvitas udang dan menurunkan pengeluaran kotoran/feses.
Pengemasan udang dalam keadaan segar dilakukan dalam wadah dan dicampur es curah. Sebelum dikemas, udang terlebih dahulu dicuci bersih. Penanganan/pengemasan dalam suhu dingin (prinsip rantai dingin) dan bersih merupakan sebagian realisasi princip penjagaan mutu udang segar yang sangat penting guna menjada mutu udang segar yang tinggi. Pencucian dimaksudkan membersihkan kotoran dan lendir yang merupakan sumber penyakit. Demikian pula suhu dingin untuk menghambat tingkat kemunduran mutu baik secara mikrobiologis (berkembangnya organisme pembusuk), maupun kemis (perombakan senyawa secara mimiawi).


L. MENJAGA KESEHATAN UDANG GALAH
1. BIOSEKURITI
Biosekuriti adalah sistem pencegahan penyakit dalam budidaya, meliputi sarana yang harus tersedia dan prosedur yang harus dipatuhi baik para pekerja maupun orang lain yang masuk ke areal budidaya. Beberapa sarana yang lazim ada untuk maksud tersebut antara lain:
  • Pagar areal budidaya;
  • Foot-bath (fasilitas cuci kaki yaitu bak diisi larutan kaporit 50-100 ppm;
  • Hand-wash (fasilias cuci tangan);
  • Dll.

2. MONITORING KESEHATAN UDANG
a. Tindakan diagnose
Monitoring kesehatan pada budidaya yang sedang berjalan adalah termasuk dalam tindakan Diagnosa Level 1, yang meliputi :
  • pengamatan langsung terhadap Lingkungan;
  • Perubahan tingkah laku dan gejala klinis.

Bila diperlukan maka dapat dilanjutkan ke Diagnosa Level 2 yaitu pemeriksaan contoh di laboratorium. Untuk dapat melaksanakan tindakan diagnosa level 1, diperlukan pengetahuan tentang komponen yang menjadi pemicu timbulnya penyakit pada biota budidaya, dan hal ini akan dijelaskan pada bahasan berikut.

b. Komponen Pemicu Penyakit
Komponen pemicu penyakit adalah: inang (host), patogen (pathogen) dan lingkungan (environment). Penyakit akan terjadi jika terdapat interaksi diantara inang, patogen dan lingkungan. Semakin buruk ketiga komponen tersebut maka semakin hebat dan cepat penyakit yang diakibatkannya.

c. Teknik Pengamatan Secara Visual
Teknik pengamatan secara visual ditujukan untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan/udang secara sederhana dan dapat dilakukan langsung di lapangan (on spot). Teknik tersebut sangat banyak membantu dalam penentuan penyakit yang ada dan memudahkan dalam pengendalian yang akan dilakukan.
Teknik pemeriksaan ikan secara visual mencakup beberapa komponen mendasar yang harus dipahami oleh para praktisi perikanan termasuk antara lain:
(a) Sejarah terjadinya penyakit
(b) Pengamatan lingkungan sekitar tempat pemeliharaan
(c) Pengamatan keadaan media pemeliharaan
(d) Pengamatan di lapangan secara umum

d. Pemeriksaan gejala klinis udang sakit di lapangan sebagai sampel
Gejala klinis ikan yang diduga sakit harus juga dilakukan, yakni dengan mengambil sampel ikan tersebut dengan cara mengamati gejala klinisnya seperti, adanya luka, ikan gelisah dan menggosok-gosokkan ke substrat/dinding wadah, pucat, tidak banyak bergerak, nafsu makan menurun, megap-megap dipermukaan, dsb.

e. Pemeriksaan mikroskopis di lapangan
Jika memungkinkan pemeriksaan mikroskopis juga dilakukan, dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 hingga 400x. Indikasi yang diharapkan adalah menduga adanya patogen tertentu seperti protozoa, jamur, atau bahkan bakteri meski tidak dapat secara langsung. Dapat dengan mengirim sample ke laboratorium terdekat.


M. BEBERAPA CONTOH PENYAKIT
Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul pada udang galah adalah antara lain adalah
a) Penyakit bakterial yang berupa Vibrio sp. dengan ditandai oleh :
·      semacam stress,
·      fluorisensi pada larva yang mati; dan
·      terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat.

Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone dengan dosis 1015 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.
b) Black Spot. Timbul bintik hitam yang disebebkan oleh bakteri, dan diikuti dengan berkembangnya jamur pada tubuhnya. Banyak menyebabkan kematian serta penurunan mutu udang. Cara mengatasi adalah dengan pemberian obat-batan anti bakterial yang diaplikasikan secara oral melalui pakan.
c) Udang terserang penyakit dengan tubuh warna kehijauan, berlumut pada tubuhnya.
Lumut warna hijau yang menempel pada udang merupakan akumulasi beberapa organisme terutama dari jenis-jenis protozoa, yaitu Vorticela sp., Epistylis sp., dan Acineta sp. Aplikasi obat-obatan pembasmi alga yang dikombinasikan dengan pembersihan dasar kolam serta perbaikan kualitas air akan dapat mengurangi serangan penyakit ini.

Tindakan pencegahan terhadap timbulnya penyakit.
Beberapa hal yang perlu dilakukan agar penyakit tidak berkembang antara lain adalah sebagai berikut:
a)  Menerapkan biosekuriti, baik di pintu-pintu masuk maupun dalam proses budidaya ;
b)  Memastikan bahwa air pasok bebas pencemaran, bebas dari organisme penyakit, termasuk yang dibawa oleh carriers (binatang lain baik ikan dll.);
c)  Mengkarantina udang yang masuk dari luar;
d)  Padat tebar jangan terlalu tinggi.
e)  Menjaga lingkungan budidaya agar selalu dalam keadaan prima dan menangani limbah budidaya demikian rupa hingga tidak mencemari lingungan sekitarnya;
f)   Mengadministrasikan/mendokumentasikan proses produksi dan treatmen-treatmen yang dilakukan.

Dalam pengelolaan kesehatan, pada dasarnya penggunaan bahan-bahan kimia dan obat-obatan untuk tindakan pencegahan penyakit ditekan seminimal mungkin. Jenis-jenis bahan kimia yang dilarang tidak digunakan. Air buang bekas pengobatan atau tindakan desinfeksi dll harus ditangani agar supaya tidak mencemari lingkungan termasuk masuknya ke dalam tanah. Adapun bahan kimia dan obat-obatan yang direkomendasikan atau bisa ndipergunakan antara lain adalah oksitetrasiklin, furazolidon, tetrasiklin, formalin dan kaporit.



KEPUSTAKAAN

Ali, Fauzan. 2009. Mondongkrak Produktivitas Udang Galah Hingga 250%. Penerbit Swadaya. Jakarta. 115 halaman.
Badan Standarisasi Internasional. 2000. SNI Udang Galah. Jakarta.
Indonesia Aquaculture. 2011. Teknik Pembesaran Udang Galah. Sponsored by Tequisa Indonesia. Jakarta.
Khasani, I. 2010. Efisiensi Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) Melalui Penggunaan Garam Dapur Sebagai Pengganti air Laut. Loka Riset Pemiliaan dan Teknologi Budidaya Air Tawar. Sukamandi.
Ryan, Enny Purbani T. 2006. Peluang Ekspor Udang Galah. AGRINA. Jakarta.
Sartini. 2010. Teknik dan analisa Finansial Pembesaran Udang Galah. Karya Ilmiah Praktek Akhir. Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta.88 Halaman.
Singholka, S. 1982. FRESHWATER PRAWN FARMING. A Manual for The Culture of Macrobrachium rosenbergii. FAO, Rome. 116 halaman.
Sutomo, H. 20/11/2011. Pengembangan Benih Udang Galah Hasil Persilangan Induk alam dan Induk Hasil Budidaya. TRIPOD.
Trobos. 2011. Udang Galah: Trik Meraup Untung Lebih. Jakarta.
Warta Limnologi. 2006. “Kolam Ber-apartemen” Potensial Meningkatkan Produktivitas Budidaya Udang Galah (Macreobrachium rosenbergii). No.40. Jakarta.







































5 komentar:

  1. Untung besar hanya dengan memainkan permainan online?? kalian bisa langsung hubungi

    Kontak WA :+85570871599

    Untuk akses linknya bisa langsung di klik bakatpoker.cc

    Dijamin gak bakal nyesel deh!! 100% fairplay dan terpercaya
    Dan gak tanggung-tanggung Winratenya capai 98%

    BalasHapus
  2. Raih Kemenangan Besar Anda Disitus MARIO QQ, Hanya Dengan Modal Rp.10.000 Anda Bisa Menangkan Jackpot Jutaan Rupiah Setiap Harinya !!!

    ✅ BONUS TURN OVER 0.3%
    ✅ BONUS REFFERAL 15%
    ✅ WIN RATE GAME 96,9%
    ✅ 100% PLAYER Vs PLAYER ( NO ROBOT & ADMIN )
    ✅ Minimal Deposit Bank : Rp.10.000 (BCA MANDIRI BNI BRI DANAMON)
    ✅ Minimal Deposit Pulsa : Rp.10.000
    ✅ Support E-Cash : GOPAY , DANA , OVO , LINK

    Berapapun Kemenangan Bosku Pasti Akan Kami Bayar dan Kita Proses Dengan Cepat !!!
    Hanya Disitus MARIO QQ Yang Memberikan JACKPOT dan BONUS TURN OVER Yang FANTASTIS Loh !!! Ayo Tunggu Apalagi Buruan Daftarkan dan Mainkan
    Langsung Disitus Resmi MARIO QQ Dibawah Ini melalui :
    WHATSAPP +62 821-4331-1663

    Link Alternatif :
    - www.qmario. com
    - www.qmario. net

    BalasHapus