1. Pendahuluan
Sampai saat ini ikan gurame (osphronemus gouramy) masih menduduki nilai pasar teratas
untuk jenis ikan konsumsi air tawar, ada beberapa hal yang menjadi latar
belakang mahalnya harga, sehingga masih kurangnya pemenuhan kebutuhan pasar.
Secara alami pertumbuhan ikan gurame tergolong lambat
pertumbuhannya, karena kantong kemih yang ada relatif kecil bila dibandingkan
dengan jenis ikan konsumsi lainnya seperti ikan mas dan ikan lele. Faktor
lambatnya pertumbuhan ikan ini menjadi kendala bagi investor untuk menanamkan
modalnya.
Faktor tersebut dapat disiasati dengan segmen budidaya,
yaitu bermain dalam usaha budidaya pada segmen tertentu, artinya tidak semua
segmen usaha dikuasai sendiri dari mulai pemijahan sampai dengan pedaging,
setidaknya kita dapat memilih pada 4 (empat) segmen yaitu : Pemijahan,
Pendederan, Pembenihan dan Pedaging.
Pola usaha seperti diatas sangat relevan dengan kondisi
bangsa saat ini yaitu penciptaan lapangan kerja untuk tersedianya pangan, dalam
rangka pengembangan agribisnis budidaya gurame, yang pada tujuan akhirnya
masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya sehingga mampu hidup sejahtera.
Faktor lain yang masih sering dihadapi dalam
pengembangan agribisnis budidaya ikan gurame adalah masih terbatasnya sumber
daya manusia yang memiliki keahlian khusus dalam penanganannya, selain itu
tingkat mortalitas (kematian) cukup tinggi mulai dari telur sampai pembenihan,
tingginya biaya produksi belum mampu dijangkau oleh petani golongan ekonomi
lemah untuk mengembangkan usaha ini khususnya pada segmen usaha pedaging.


