Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Layanan Informasi Penyuluhan Perikanan

Selasa, 12 Februari 2013

PENERAPAN BIOLOGI MOLEKULER PADA BUDIDAYA UDANG

Biologi molekuler untuk pengembangan budidaya udang saat ini sangat diperlukan. Pengetahuan biologi ini merujuk pada pengkajian mengenai kehidupan hingga skala molekuler dan interaksinya dalam sistem sel, termasuk DNA (Deoxyribonucleic acid), RNA (Ribonucleic acid) dan sintesis protein serta pengaturannya. Perkembangan biologi molekuler sangat erat hubungannya dengan genetika, mengingat peran DNA sebagai materi genetik, yang berarti bahwa DNA menyimpan cetak biru (blue print) bagi semua aktifitas sel dan karakternya. DNA merupakan jenis asam nucleat yang tergolong biomolekul utama penyusun jaringan organisme dan umumnya terletak di dalam inti sel.
 
Teknik yang paling umum digunakan untuk riset biologi molekuler dan genetika molekuler adalah Polymerase Chain Reaction (PCR). Prinsip kerja PCR adalah mereplikasi atau menggandakan potongan DNA tertentu dari seluruh untaian DNA dengan bantuan enzim. Penggandaan DNA dapat berasal dari DNA inti sel (nukleus) maupun organela sel seperti DNA mitochondria (mt DNA) dan DNA Ribosoma (rDNA). Dalam penggandaan diperlukan dua primer (foward dan reverse) yang berfungsi untuk menandai ujung DNA yang akan digandakan, mengingat DNA terdiri dari dua untai pilinan ganda. Dengan demikian dalam replikasi DNA dapat dihasilkan berjuta-juta sintesis rantai DNA baru dengan informasi genetik yang sama.

Senin, 11 Februari 2013

PENERAPAN PROBIOTIK UNTUK PRODUKSI UDANG UNGGUL

 
Keterbatasan produksi perikanan tangkap telah menstimulasi kesadaran pada pentingnya perikanan budidaya. Secara signifikan perikanan budidaya di Indonesia terus meningkat, khususnya pada budidaya udang. Karena pangsa pasar yang tsangat terbuka dan menguntungkan, para pembudidaya akhirnya berlomba-lomba untuk meningkatkan produksi udang yang diusahakannya dengan cara peningkatan padat tebar dengan tidak memperhatikan kestabilan lingkungan budidaya dan tidak melakukan kontrol yang baik, akhirnya dalam usaha budidaya udang yang dijalankan oleh para pembudidaya lambat laun banyak mengalami kendala dan masalah, seperti munculnya penyakit/virus/bakteri yang tidak menguntungkan. Tanpa bisa dihindari akhirnya praktek penggunaan antibiotik dan terapi kimiawipun dilakukan.
 
 
Penggunaan antibiotik dan bahan kimia dalam budidaya udang yang tidak beraturan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit dalam akuakultur dapat mengakibatkan akumulasi residu dan perkembangan strain bakteri resisten. Oleh karenanya sebagian besar konsumen prihatin dengan bahaya residu antibiotik dan adanya strain bakteri patogen yang resisten tersebut, sehingga semakin meningkat tuntutan penggunaan komponen biologis atau mikroba sebagai organisme penghasil  enzim untuk aditif pakan, kompetitor patogen, dan pengontrol lingkungan budidaya. Sehingga untuk saat seperti ini keberhasilan teknologi budidaya udang salah satunya adalah penggunaan probiotik untuk menggantikan penggunaan antibiotik dan bahan kimia lainnya.
 

Rabu, 06 Juni 2012

KANDUNGAN GIZI PADA IKAN

Kandungan gizi yang terdapat pada ikan, antara lain:

A. Protein
  1. Kandungan protein ikan lebih tinggi dari protein serealia dikacang-kacangan, setara dengan daging, sedikit dibawah telur.
  2. Protein ikan sangat mudah dicerna, sehingga baik bagi balita yang system pencernaannya belum sesempuna orang dewasa.
  3. Protein ikan mengandung berbagai asam amino dalam bentuk yang mendekati asam amino didalam tubuh manusia. Komposisi asam amino protein ikan juga lebih lengkap dibanding bahan makanan lain, salah satunya taurin, sangat bermanfaat merangsang pertumbuhan sel otak balita.

Sabtu, 02 Juni 2012

PERBEDAAN IKAN SEGAR DAN IKAN BUSUK

Ikan merupakan salah satu makanan yang cepat rusak, karena kandungan protein yang sangat tinggi sehingga menyebabkan bau busuk yang menyengat.  Beberapa ikan, terutama yang berasal dari laut, mengandung senyawa yang mengandung senyawa penyebab alergi. Untuk menjaga kesehatan tubuh kita maka sebelum mengkonsumsi ikan kita perlu mengenali ciri-ciri ikan yang segar dan ikan yang sudah mengalami proses pembusukan.

Senin, 28 Mei 2012

CARA PEMBENIHAN IKAN YANG BAIK (CPIB)


Benih merupakan faktor penting dalam pemeliharaan ikan. Benih harus tersedia dalam dalam jumlah yang cukup, berkualitas tinggi, dan tepat waktu. Penggunaan benih berkualitas merupakan salah satu jaminan keberhasilan panen. Salah satu indikator untuk mengukur kualitas benih adalah laju pertumbuhan dan tingkat kematian.

Penggunaan benih yang tidak berkualitas akan menyebabkan usaha pemeliharaan tidak ekonomis karena pemberian pakan menjadi tidak efisien, pertumbuhan lambat dan tidak seragam, mudah terserang penyakit sehingga menyebabkan produksi dan nilai produksi rendah.   

Akhir-akhir ini beberapa ikan seperti lele dumbo dan nila mengalami penurunan kualitas. Pada awal lele dumbo berkembang di Indonesia (tahun 1985), pemeliharaan benih ukuran 3-5 cm menjadi ukuran konsumsi dengan bobot antara 125 – 150 gram/ekor dapat dicapai dalam waktu 70 hari. Namun saat ini dengan pola pemeliharaan yang sama, waktu pemeliharaannya menjadi 100 hari. Penurunan laju pertumbuhan ini dapat disebabkan oleh menurunnya kualitas genetik.