Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Layanan Informasi Penyuluhan Perikanan

Minggu, 02 September 2018

AKUAPONIK BUIS BETON

Keberhasilan suatu usaha akuakultur sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan yang optimum untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan yang dipelihara. Sementara itu, dalam suatu sistem tertutup secara kontinu ikan memproduksi limbah nutrien yang secara perlahan namun pasti mencapai level yang beracun (toksik) bagi ikan itu sendiri.
Menurut Colt (1991) dari 1 kg pakan dengan konsumsi oksigen 250 gram, ikan mengeluarkan 340 gram CO2 dan 30 gram amonia melalui insang, 500 gram feses padat dan 5.5 gram PO4-P. Losordo et al. (1998) telah menghitung sekitar 250-300 gram limbah berupa solid (dari feses dan residu pakan) dihasilkan oleh setiap 1 kg ikan. Menurut Zonneveld et al. (1991) setiap 1 kg pelet pakan yang dikonsumsi ikan dapat menghasilkan NH4+-N sebesar 30 gram. Limbah akuakultur dalam bentuk gas di antaranya adalah karbon dioksida (CO2) dari hasil respirasi biota akuatik dan hasil perombakan bahan organik secara aerobik maupun anaerobik oleh bakteri heterotrof.
Oleh karena itu, untuk menjaga lingkungan akuakultur agar selalu dalam kondisi optimum maka air media ikan diresirkulasi dengan melalui mekanisme filtrasi. Menurut Van Rijn et al. (2005) bahwa sistem resirkulasi untuk menghilangkan nitrat dari sistem akuakultur untuk beberapa alasan, seperti; (1) regulasi proteksi lingkungan diasosiakan dengan level nitrat yang diijinkan > 11.3 ppm (European council directive, 1998). (2) menghindari peningkatan nitrit sebagai akibat dari reduksi nitrat yang tidak sempurna (3) stabilisasi kapasitas penyangga (4) mengeliminasi karbon organik, ortofosfat dan sulfid dari air budidaya selama proses denitrifikasi.
Dalam sistem filtrasi konvensional sebenarnya tidak mengeliminasi limbah nutrien dari sistem akuakultur karena nutrien tersebut hanya tertahan sesaat di media filter yang kemudian kembali lagi ke dalam wadah akuakultur sedangkan pembuangan (discharge) limbah dari media filter akan dapat mempengaruhi lingkungan akuatik secara luas, hal ini tentu saja bertentangan dengan kebijakan proteksi lingkungan dalam good aquaculture practices untuk biosekuriti dan water scarcity. Dengan demikian, perlu dilakukan upaya eliminasi limbah nutrien ini dengan mengalihkannya ke tingkat trofik lain sehingga menjadi suatu produk yang lebih bermanfaat.
Akuaponik adalah suatu perpaduan sistem budidaya antara sub sistem hidroponik dengan sub sistem akuakultur sehingga menjadi suatu sistem produksi pangan terpadu (tanaman dan ikan). Dewasa ini, Akuaponik menjadi sebuah model produksi pangan berkelanjutan yang menekankan pada konsep aliran nutrien yang memadukan prinsip-prinsip ekologis sehingga teknologi ini lebih alami dan sangat ramah lingkungan, menghasilkan produk organik karena bebas dari kontaminasi bahan kimia (misalnya;disinfektan, pestisida, antibiotik, dll). Selain itu, akuaponik merupakan sistem akuakultur yang dikembangkan untuk lahan terbatas sehingga sangat penting untuk pengembangan akuakultur di daerah perkotaan (urban aquaculture). 

·           Sistem akuaponik mengikuti prinsip-prinsip berikut:
Produk limbah dari satu sistem biologis perfungsi sebagai nutrient untuk system biologis berikutnya.
·           Perpaduan ikan dan tanaman merupakan usaha polikultur yang menghasilkan produk ganda (ikan dan sayuran).
·           Air dapat digunakan kembali karena telah melalui resirkulasi dan filtrasi secara biologis.
·           Produksi pangan lokal ini akan menyediakan akses untuk pangan sehat dan meningkatkan ekonomi lokal.
Dalam akuaponik, efluen yang kaya nutrien dari bak ikan digunakan sebagai pupuk untuk produksi tanaman hidroponik. Hal ini baik bagi ikan, karena akar tanaman menjadi media permukaan untuk tempat tumbuhnya Rhizobacteria yang akan merombak limbah nutrien dari sistem akuakultur. Nutrien ini dihasikan dari kotoran ikan, alge, dan sisa pakan yang dapat terakumulasi hingga level toksik dalam bak ikan, tetapi sebaliknya dapat berfungsi sebagai pupuk cair untuk pertumbuhan tanaman dalam hidroponik. Dengan demikian, hidroponik berfungsi sebagai biofilter untuk menyerap amonia, nitrat, nitrit, dan fosfor, jadi air yang bersih kemudian dapat dialirkan kembali ke bak ikan. Bakteri nitrifikasi yang hidup dalam media filter dan berasosiasi dengan akar tanaman memegang peran utama dalam siklus nutrient; tanpa mikroorganisme ini keseluruhan system akan berhenti berfungsi.


Akuakulturis dan petani menggunakan akuaponik karena beberapa alasan :
  1. Petani melihat kotoran ikan sebagai sumber pupuk organic yang baik bagi pertumbuhan tanaman.
  2. Pembudidaya ikan melihat hidroponik sebagai salah satu metode biofltrasi untuk memfasilitasi akuakultur resirkulasi intensif.
  3. Petani melihat akuaponik sebagai cara untuk memperkenalkan produk organik ke pasar karena hanya menggunakan pupuk dari kotoran ikan yang telah melalui proses biologis.
  4. Menghasilkan dua produk sekaligus dari satu unit produksi.
  5. Akuaponik dapat menghasilkan sayuran segar dan ikan sebagai sumber protein pada daerah-daerah kering dan ketersediaan lahan terbatas.
  6. Akuaponik adalah model produksi pangan yang berkelanjutan dengan perpaduan tanaman dan ikan dan siklus nutrien.
  7. Selain untuk aplikasi komersial, akuaponik telah menjadi tempat pembelajaran yang populer bagi masyarakat maupun siswa-siswa kejuruan perikanan tentang biosistem terpadu.

PEMBUATAN KOLAM BUIS BETON

A.     Alat dan Bahan
1.   Alat dan Bahan Pembuatan Kolam Buis Beton
Alat dan Bahan
Spesifikasi
Jumlah
1.    Buis Beton              
ø 100 cm tinggi 50 cm
2 unit
2.   Pipa paralon
ø 2”
2 m
3.   Knee L
ø 2”
2 buah
4.   Knee T
ø 2”
2 buah
5.   Dop
ø 2”
2 buah
6.   Kawat ram
Mesh size 5 mm
100 x 90 cm
7.   Pasir

0,5 m3
8.   Semen

10 kg
9.   Besi bangunan
ø 4mm
100 cm

          2.   Alat dan Bahan Pembuatan Akuaponik
Alat dan Bahan
Spesifikasi
Jumlah
1.   Ember plastik
ø 24 cm
10 unit
2.  Cething nasi
Berlubang-lubang
10 unit
3.  Selang plastik tebal
ø 3 cm
2 m
4.  Pompa air kecil
35 watt
1 unit
5.  Pipa
ø 2 cm
10 buah
6.  Knee L
ø ½ “
1 buah
7.  Knee T
ø ½ “
1 buah
8.  Ring besi

2 unit
9.  Gelas air mineral

10 buah
10.       Batu arang

5 kg

     3.   Komponen Akuaponik
Komponen utama dari buis beton akuaponik ini adalah ikan dan sayuran. Ikan yang ditebar pertama kali adalah ikan lele berukuran 7-9 cm sebanyak 500 ekor dan sayuran yang ditanam adalah tanaman kangkung air, yang disebar di masing-masing ember plastik.


4.  Cara Membuat Buis Beton Akuaponik (Gambar Terlampir)
1.   Siapkan 2 unit buis beton diameter 100 cm, tinggi 50 cm. Pilih lokasi kolam dengan tepat, usahakan terkena sinar matahari langsung.
2.    Tumpuk bis beton dan sambung dengan adonan semen sebagai perekat
3.   Buat central drain  (diameter 20 cm, kedalaman 20 cm) dan saluran pembuangan air. Dasar kolam dibuat cekung.
4.   Pasang pipa pembuangan air yang disambung dengan pipa kontrol air. Kemudian dasar kolam siap di cor. Gunakan panci bekas sebagai cetakan lubang agar hasilnya rapi.
5.    Setelah di cor, seluruh dinding kolam di aci dengan adonan semen agar halus
6.    Buat saringan central drain. Kerangka saringan terbuat dari dari besi agar awet
7.    Pasang kawat ram sesuai dengan lingkaran kerangka besi
8.    Pasang saringan pada central drain
9.    Pasang pipa kontrol air dan buatlah selokan pembuangan air. Dan kolam siap digunakan
10. Siapkan ember plastik untuk menanam kangkung air, buat lubang di bagian bawah ember (tinggi sekitar 5 cm dari bawah ember), kemudian pasang pipa kecil sebagai saluran keluar (outlet)
11.  Potong cething nasi (disesuaikan tingginya) dan masukkan kedalam ember, berfungsi sebagai saringan
12.  Siapkan gelas air mineral yang telah diberi lubang kecil-kecil sebelumnya, masukkan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik, sebagai media tanam kangkung air.
13.  Masukkan media tanam ke dalam ember (di atas cething nasi), tahan agar media tanam berdiri kokoh dengan memasukkan batu arang disekelilingnya.
14.  Lakukan hal yang sama untuk sembilan ember lainnya. Setelah sepuluh ember telah siap, kemudian tata semua ember diatas permukaan kolam buis beton secara melingkar.
15.  Pasang pompa air ke dalam kolam yang telah diisi air, hubungkan dengan pipa paralon ke bagian atas, kemudian sambungkan dengan knee T dan kedua ujungnya dihubungkan dengan selang plastik tebal. Tambahkan ring besi pada percabangan knee T agar kokoh dan tidak mudah lepas.
16.  Buat lubang air pada bagian selang plastik yang bagian bawahnya tepat melewati media tanam kangkung.
17.  Setelah instalasi akuaponik siap, hubungkan dengan aliran listik agar pompa air bekerja.
18.  Tebar ikan lele ke dalam kolam buis beton (sebelumnya dilakukan pengolahan air dan aklimatisasi ikan)
19.  Sebarkan benih kangkung ke dalam media tanam yang telah disiapkan (dalam gelas air mineral)
20.  Buis beton akuaponik siap untuk dijalankan.  


Konsep akuaponik sudah agak lama berkembang dalam bidang akuakultur air tawar, bahkan Badan Pangan Dunia FAO sudah memiliki panduan teknis untuk membuat akuaponik. Di Indonesia sudah mulai banyak dikembangkan model-model akuaponik dengan menggunakan prinsip yang sama, yaitu: mengutamakan resirkulasi air dan budidaya ikan-sayur/buah secara bersama-sama. Resirkulasi air tersebut bertujuan untuk mengolah air hasil budidaya ikan yang mengandung amonia menjadi nutrisi bagi sayuran atau buah yang ditanam, sehingga air dapat digunakan kembali untuk ikan. Sistem resirkulasi ini (akuaponik) dinyatakan sebagai bentuk budidaya ikan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan (responsible aquaculture) sehingga mampu meminimalisir limbah di perairan sebagai hasil budidaya, sekaligus memperoleh hasil ikan dan sayur/buah yang bernilai ekonomi.
Sistem akuaponik yang telah berkembang di Indonesia kebanyakan menggunakan kolam ikan yang relatif luas dan jenis tanaman sayuran/buah yang bervariasi. Berangkat dari kenyataan di lapangan saat ini, terutama di daerah perkotaan, di mana lahan dan sumberdaya air semakin terbatas maka digagas inovasi berupa buis beton akuaponik. Konsep buis beton akuaponik diharapkan mampu menjadi salah satu upaya pemanfaatan lahan pekarangan, terutama di wilayah padat penduduk. Adapun keunggulan lain dari sistem buis beton akuaponik ini adalah:
1.   Kolam menggunakan buis beton dengan material yang kuat, harga murah, pemasangan mudah dan memiliki umur teknis yang lama
2.  Kolam bundar memiliki kelebihan dibandingkan kolam berbentuk kotak karena tidak memiliki “dead area” (sudut mati) yang tidak terjangkau oleh sirkulasi air
3.  Kolam bundar mampu menahan beban air lebih kuat karena beban air tersebar merata di seluruh sisi kolam
4.     Teknis budidaya ikan lebih sederhana (cocok bagi pemula)
5.     Penggunaan air lebih hemat dan efisien
6.     Pemanfaatan lahan lebih optimal
7.     Mendapatkan dua produk sekaligus, yaitu ikan dan sayur/buah.
8. Produk akuaponik dapat digunakan untuk memenuhi gizi keluarga (meningkatkan Angka Konsumsi Ikan) ataupun sebagai penghasilan keluarga
9.    Dibandingkan dengan sistem konvensional untuk mendapatkan bobot ikan yang sama dari luas lahan yang sama, system akuaponik hanya memerlukan air kurang dari 10%
10. Presentase mortalitas ikan rendah (dibawah 10%)

Ikan yang digunakan dalam sistem budidaya buis beton akuaponik ini adalah ikan lele (clarias sp.) dan tanamannya berupa kangkung air. Alasan pemilihan komoditas lele adalah lama pemeliharaan ikan yang relatif singkat, ralatif kuat dengan padat tebar tinggi, termasuk ikan yang digemari di Kabupaten Klaten dan relatif mudah pemasarannya. Sedangkan sayuran kangkung air dipilih karena pertumbuhannya relatif cepat (3 minggu sudah bisa dipanen), bersifat tahan dengan air terus menerus dan digemari bila diolah menjadi masakan.


 
 Aplikasi Probiotik saat Treatment Air Kolam
·      Setelah kolam selesai dibangun, cucilah dengan cara menggosok dinding kolam menggunakan daun pepaya, lalu bilas dengan air bersih untuk menghilangkan bau semen. Kemudian dikeringkan dan siap diisi air dengan ketinggian ± 60 cm
·      Jika sumber air berasal dari PDAM, endapkan air selama 5 hari dan diberi aerasi. Jika sumber air berasal dari irigasi/sungai, pastikan sumber air bersih dari pestisida dan lakukan penyaringan manual untuk menghilangkan kotoran dan predator. Jika sumber air berasal dari sumur yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, bisa langsung digunakan.
·      Setelah kolam diisi air, tebarkan tetes tebu sebanyak 5 tutup botol /m3 dan probiotik hasil kultur 5 tutup botol/m3 .
·      Endapkan air selama 5-7 hari untuk menumbuhkan pakan alami ikan (jentik nyamuk, cacing, kutu air, dll)
·      Benih lele siap ditebarkan. Benih yang digunakan sebaiknya ukuran 5-7 cm dengan padat tebar 500 ekor/m2
·      Pastikan tebar benih pada saat pagi hari atau sore hari.
·      Masukkan kemasan benih lele ke dalam kolam dan diamkan selama 5 menit agar suhu air dalam kemasan dan air kolam sama (aklimatisasi).
·      Buka kemasan secara perlahan, dan biarkan benih lele keluar dengan sendirinya ke dalam kolam. 
·      Jangan memberi makan benih lele sampai ± 2 hari atau hingga pakan alami dalam kolam telah habis.
·      Setelah seminggu, naikkan ketinggian air secara bertahap hingga 90 cm

Teknis pemeliharaan lele adalah seperti budidaya pada umumnya, bahkan sistem akuaponik lebih sederhana dibandingkan dengan kolam terpal. Hal tersebut dikarenakan tidak perlu mengganti air secara terus menerus, air mengalami resirkulasi ke atas dan sisa pakan yang mengandung racun menjadi unsur hara bagi kangkung sehingga air yang dialirkan kembali merupakan sumberdaya air yang lebih baik kualitasnya. Pemberian pakan lele dua kali sehari (pagi dan sore) dengan takaran yang disesuaikan dengan pertumbuhan ikan. Pakan ikan berupa pelet pabrikan. Padat tebar ikan dalam buis beton adalah 500 ekor, guna menjaga kualitas air karena padat tebar tinggi maka perlu ditambahkan probiotik. Probiotik mengandung bakteri-bakteri yang bermanfaat untuk merombak sisa pakan di dasar kolam sehingga ikan tidak mudah terserang penyakit. Probiotik dapat dibeli di toko pakan ikan. Aplikasi probiotik dapat dicampur dengan molase (tetes tebu), molase berfungsi sebagai sumber makanan bakteri yang terkandung di dalam probiotik.
Dalam waktu 2,5 bulan, lele yang dipelihara dalam buis beton akuaponik dapat dipanen, sedangkan sayuran kangkung dapat dipanen setiap 2-3 minggu sekali. Sintasan atau Survival Rate ikan lele sekitar 93% dengan tingkat mortalitas sekitar 7%. Atau dengan kata lain dengan padat tebar awal 500 ekor, ikan yang berhasil panen sejumlah 465 ekor, dengan bobot berkisar 150 gram per ekor.
Kangkung air ditanam pertama kali dengan meyebarkan biji kangkung ke tanah yang berada dalam gelas air mineral (di dalam ember), masing-masing sekitar 4-5 biji per gelas. Kangkung ditanam tanpa penambahan pupuk apapun dan tidak perlu disiram karena sudah mendapatkan air dari proses resirkulasi. Pemanenan kangkung dilakukan dengan cara pemotongan batang tanaman, produk sayuran ini tergolong kangkung organik dan harganya lebih mahal dibandingkan sayuran non organik, serta jauh lebih sehat bagi tubuh kita. Setelah batang dipotong, maka kangkung akan mulai tumbuh lagi dan dapat dilakukan pemanenan berulang kali. Dalam sekali panen dapat diperoleh kurang lebih satu kilogram kangkung segar. Selama proses pemeliharaan ikan lele dan tanaman kangkung tidak terdapat kendala dalam hal serangan penyakit.

III.       ANALISIS USAHA

  a. Biaya Tetap
Buis beton ø 1 m 2 unit @ Rp. 125.000
=
250.000
Pipa paralon 2’’,  2 m @ Rp. 12.000
=
24.000
Knee L 2’’, 2 buah @ Rp. 5.000
=
10.000
Knee T 2’’, 2 buah @ Rp. 10.000
=
20.000
Dop 2’’, 2 buah @ Rp. 5.000
=
10.000
Kawat ram mesh size 5 mm, (100 x 90 cm)
=
13.000
Pasir 0,5 m3  Rp. 75.000
=
75.000
Semen 10 kg, @ Rp. 1500
=
15.000
Besi bangunan ø 4mm, 60 cm
Ember plastik, 10 buah @ Rp. 5.000
Cething nasi, 10 buah @ Rp. 1.000
Selang plastik, 2 m @ Rp. 7.000
Pompa air 35 watt, 1 buah @ Rp. 55.000
Pipa d 2 cm, 2 m
Knee T ½ “, 1 buah @ Rp. 2.500
Knee L ½ “,1 buah @ Rp. 3.000
Ring besi 2 buah @Rp. 2.000
Gelas air mineral, gratis
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
3.000
50.000
10.000
14.000
55.000
20.000
2.500
3.000
4.000
-
Total
=
578.500
     Masa pemakaian buis beton ± 10 tahun

     b. Biaya Variabel
Benih Lele 7 cm, 500 ekor @ Rp. 150
=
75.000
Biji kangkung air, ½ bungkus @ Rp. 5.000
=
2.500
Pakan -1, 5 kg @ Rp. 10.500
=
52.500
Pakan -2, 30 kg @ Rp. 279.000
=
279.000
Probiotik cair, 1botol @ Rp. 17.500
=
17.500
Tetes tebu 1 lt, @Rp. 7.500
Batu arang, 5 kg @ Rp. 2.000
Estimasi biaya listrik 1 siklus
=
=
=
7.500
10.000
75.000
Total
=
519.000

c. Estimasi Pendapatan
·     Masa budidaya 2,5 bulan
·     Tingkat kematian 7%
·     Asumsi panen lele 43 Kg, harga jual Rp. 15.500/kg            =  Rp. 666.500
·     Asumsi panen kangkung 4 kg (4x panen) @ 25.000            =  Rp. 100.000
·  Keuntungan (hasil panen lele+kangkung – biaya variabel)    =  Rp. 247.500
·     Break Event Point (BEP) = Rp. 519.000 : 43 kg                  =  Rp.   12.069
·     Keuntungan per kg Rp. 247.500 : 43 Kg                            =  Rp.     5.756

Tidak ada komentar:

Posting Komentar