Selamat Datang

Selamat Datang di Situs Layanan Informasi Penyuluhan Perikanan

Sabtu, 15 Agustus 2015

BUDIDAYA IKAN BANDENG


Ikan bandeng merupakan salah satu spesies ikan yang mempunyai nilai ekonomis untuk dikembangkan budidayanya. Jenis ikan ini sudah dikenal masyarakat luas dan sudah menjadi kegemaran serta kebutuhan konsumsi. Permintaan pasar akan ikan bandeng akhir-akhir ini terus mengalami peningkatan, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan bagi pembudidaya untuk memenuhi permintaan tersebut.

Beberapa permasalahan yang dihadapai oleh petani tambak saat ini terutama petani tambak bandeng sederhana adalah masalah kesuburan tanah. Disinyalir beberapa areal tambak mengalami perubahan struktur tanah. Tanah dasar tambak menjadi keras dan kesulitan dalam menumbuhkan klekap selanjutnya ikan bandeng akan kekurangan makanan alami yang menyebabkan pertumbuhannya menjadi terhambat. Dalam kondisi tersebut ikan bandeng akan mengalami penurunan daya tahan tubuh sehingga memungkinkan terjadinya serangan penyakit, walaupun dalam budidaya ikan bandeng hingga saat ini belum terdengar adanya serangan penyakit, tetapi alangkah baiknya mengkondisikan ikan tersebut dalam keadaan sehat dan menghindari hal-hal yang bisa mengakibatkan timbulnya penyakit.
Klasifikasi dan Morfologi
Secara taksonomi (Saanin,1968). Bandeng dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Class          :  Pisces
Sub Class   : Teleostei
Ordo          : Mata Copterygii
Genus        :  Chanos
Spesies      :  Chanos chanos Forskal
Bandeng di Indonesia dikenal juga dengan nama Bandang, Bolu, Muloh, dan Agam, tetapi dalam perdagangan internasional Bandeng dikenal dengan sebutan Milk fish.
Bandeng memiliki karakteristik badan yang langsing berbentuk torpedo, dengan  sirip ekor yang bercabang, mulut terletak di ujung kepala dengan rahang tanpa gigi, lubang hidung terletak di depan mata, mata diselimuti selaput bening. Panjang badan di laut dapat mencapai 1 meter tetapi dalam tambak panjangnya tidak lebih dari 50 cm. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ruang dan memang dipanen sebelum mencapai ukuran maksimal.
Habitat
Untuk hidup dengan baik bandeng menghendaki beberapa persyaratan lingkungan tertentu, persyaratan dimaksud adalah kualitas air; suhu 25-35 0 C, salinitas 25-32, kecerahan 25-30, pH 7,6-8,6, dan DO 3,0-5,2. Disamping itu faktor makanan, pembuasan, hama dan penyakit juga sangat mempengaruhi kehidupan ikan bandeng di tambak.
Makanan
Bandeng adalah ikan herbivora yang memanfaatkan klekap, lumut dan plankton sebagai makanan utamanya dalam tambak, ketiga sumber makanan tersebut menghendaki persyaratan lingkungan tertentu untuk mendukung kehidupannya diantaranya suhu, karbondioksida, oksigen, pH dan salinitas tertentu. 
Persiapan Tambak
Persiapan tambak yang dilakukan meliputi perbaikan konstruksi, pintu air, saluran air, serta pematang. Pengeringan dilakukan 1-2 hari untuk menguapkan gas-gas beracun dan bibit penyakit yang ada di dalam tanah selanjutnya dilakukan pengapuran dan pemupukan untuk menumbuhkan klekap.
Penebaran Benih
Penebaran benih dilakukan setelah klekap tumbuh sebelum benih ditebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dan salinitas air untuk menghindari terjadinya stress. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari dimana suhu udara dalam kondisi rendah.
Pemberian Pakan
      Pakan utama bandeng di dalam tambak adalah klekap, yaitu kumpulan berbagai jenis jazad dasar dengan komponen utama terdiri dari algae biru (Cyanophyceae) dan diatomae (Bacillariophceae) selain itu ikan bandeng juga membutuhkan pakan tambahan agar tumbuh dengan baik, pakan tambahan yang diberikan adalah roti BS dengan dosis 5-0 % dari berat badan per hari.
Pengelolaan Kualitas Air
Pengamatan terhadap kualitas air perlu dilakukan terus menerus untuk mempertahankan kualitas air yang baik. Tindakan yang perlu dilakukan adalah penggantian air sesuai dengan kebutuhan.  Pengelolaan kualitas air ditujukan untuk memberikan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan ikan bandeng.
Monitoring Hama
Jenis hama yang sering ditemukan seperti ikan payus, kerong-kerong, kakap, kepiting dan trisipan. Keberadaan hama ini dapat menimbulkan persaingan di dalam tambak, oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan monitoring untuk menanggulangi hal tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standarisasi Nasional, 1998. Produksi Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos) Kelas benih Sebar. Departemen Pertanian. Jakarta.
http://rajanyabandeng.wordpress.com/2013/01/01/ikan-bandeng-vs-ikan-salmon-part-ii/
Murthala, Dia. 2004. Pembesaran Ikan Bandeng di BBPBAP Jepara Jawa Tengah. Jurusan Penyuluhan Perikanan STPP Bogor. Bogor.
Murtidjo, B. 2002. Budidaya dan Pembenihan  Bandeng. Kanisius. Yogyakarta.
Wijayakusuma, Hembing dkk. 1995.  Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Pustaka Kartini. Jakarta
Santoso B. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Bandeng Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar